#65780
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah, Penguasa segala alam semesta. Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, para Imam dan Mahdyeen.

Assalamu alaykum waRahmtullah waBarakatuh

Sudah menjadi kewajiban bagi kamu, wahai manusia, bahwa kamu mengenali dan mentaati Imam Zaman. Sesungguhnya, mereka yang mencari kebenaran dengan tulus akan dibimbing menuju jalan kesalehan.

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an), dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah, dengan memurnikan ketaatan kepadaNya.” {QS 39:2}

Mereka bertanya kepadamu mengapa kami harus taat kepadamu, wahai putera Fatimah? Mengapa orang-orang berkewajiban untuk mengenal dan taat kepada Imam Ahmed Al Hassan (as)?

Aba Sadiq Abdullah Hashem (as) telah mengatakan kepada kalian semua untuk berpegang teguh pada perjanjian yang telah kita buat dengan Allah SWT yaitu bahwa kita akan membunuh keakuan (ego) dan keinginan kita dan memilih Imam (as) dan wasiat Allah (SWT) dan bukannya diri kita sendiri. Wahai manusia, terkutuklah ia yang memilih dirinya di atas Aale (Keluarga) Muhammad (as).

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji.” {QS 16:91}

Dan Allah juga berfirman:

“… dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” {QS 17:34}

Tentu saja kamu akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Penghakiman atas apa yang tanganmu punyai dan berikan. Oleh karena itu tanyalah dirimu sendiri apa yang telah kamu lakukan bagi Wali Allah pada zamanmu? Apakah kamu bekerja, memberi, dan melakukan perbuatan baik di dalam jalan Allah dan mendukung Khalifah Allah di muka bumi? Apakah kamu membantu mengisi dunia dengan keadilan dan kesetaraan atau apakah kamu menolong para tiran dan ulama tak beramal di dalam tindakan penindasan dan ketidaktaatan mereka dengan cara berdiam diri dan berpura-pura tidak melihat ketidakadilan dengan menjadi tuli, bodoh dan buta. Jika kamu percaya bahwa kamu akan ditanyai tentang di universitas mana kamu pernah bersekolah atau jenis pekerjaan apa yang telah kamu kerjakan atau berapa jumlah uang yang telah kamu belanjakan untuk memamerkan nafsumu atau atau atau. Tidak! Tuhanmu berada lebih jauh dan tinggi daripada apa yang kamu katakan dan yang kamu telah pahami dan sunnahNya ada di atas sunnahmu yang terbuat dari kejahilan dan analogimu sendiri. Jadi, menghadaplah ke Kiblat Tuhanmu yang datang dengan bukti-bukti dan mohonlah ampunan dariNya, Yang Maha Pengasih.


Imam (as) telah berkata, “Ahmed Al Hassan tidak menginginkan para pembantu melainkan orang-orang yang percaya kepada Allah SWT dengan tulus.”

Imam (as) tidak berseru bagi dirinya sebagaimana yang diperbuat oleh para ulama tak beramal dan yang sejenisnya. Ia (as) memanggil kita untuk berpaling kepada Sang Penguasa alam semesta. Otoritas (supremacy) hanya milik Allah, Yang Maha Tinggi, Penguasa semua surga dan bumi dan yang ada diantaranya telah terjadi di masa lalu dan Ia SWT akan terus mengangkat khalifah di bumi untuk manusia dan jin yang disebabkan oleh kondisi dan kemiskinan mereka. Jadi kita harus berpaling kepadanya (Khalifah Allah) karena kita membutuhkannya sementara ia tidak membutuhkan kita. Berpalinglah kepada Hijab Tuhanmu sehingga ia akan terus memeliharamu walaupun kamu penuh dengan kekurangan. Mengenali Hijab Allah (Imam) adalah mengenali Allah SWT dan taat kepadanya berarti taat kepada Allah SWT. Mereka bertanya mengapa kita harus taat kepada seorang manusia yang bentuk fisiknya menyerupai dan mirip dengan kita. Sekiranya kamu mengetahui kebijaksanaan dibalik semua ini yaitu bahwa sungguh sulit bagi seorang manusia untuk menaati manusia yang lainnya yang mempunyai imej Tuhannya, ini adalah ujian bagi kamu untuk memilih kehendakNya diatas keangkuhanmu dan menyembahnya dengan cara yang Tuhanmu ingin disembah dan bukannya dengan cara bagaimana kamu ingin menyembahnya. Ingatlah, Allah SWT telah mengungkapkan kepadamu, wahai anak-anak Adam, kesombongan Iblis (la) dan ketidaktaatannya terhadap Hujjah Allah.

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir (hijab), atau dengan mengutus seorang utusan, lalu diwahyukan kepadanya dengan seijin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana.” (QS 42:51)


Allah adalah Zat yang Maha Tinggi dan Yang Maha Agung berbicara kepada Musa (as) melalui semak-semak yang terbakar yang merupakan hijabNya dan semak-semak itu bukanlah Tuhan yang absolut tentu saja tetapi Allah SWT menggunakannya sebagai hijabNya untuk berbicara dengan Nabi Allah. Oleh karena itu, mengapa sedemikian sulit untuk mengerti bahwa Allah menggunakan manusia sebagai hijabNya? Dan bukan hanya sembarang manusia, mereka adalah yang diseleksi secara istimewa oleh Allah SWT karena Allah lah yang memilih wakilNya dan bukanlah manusia (yamg memilih wakil Allah). Ia SWT mengirimkan mereka sebagai bentuk kasih sayangNya bagi umat manusia sehingga mereka akan berpengetahuan walaupun Allah berada di atas pengetahuan mereka (manusia). Maka ikutilah ayat-ayat (bukti-bukti)Nya supaya jangan sampai kamu menjadi kaum yang menyesal.

Mereka yang tidak mengenali Imam Zamannya maka tentu saja mereka berada di dalam golongan orang-orang yang merugi.

Imam Ahmed Al Hassan (as) berkata di dalam Khotbah Haji:

“Dan aku siap untuk berdebat dengan siapa pun diantara mereka dengan menggunakan kitab-kitab mereka dan aku adalah seorang hamba yang bodoh dan sederhana yang mengetahui lebih banyak tentang Quran dibandingkan mereka, dan mengetahui Injil dan Taurat dan poin-poin yang telah dipalsukan di dalamnya dengan pengetahuan istimewa yang diberikan kepadaku oleh Allah.

Tidak, mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menanggapi pengetahuan yang diberikan kepada kita oleh Allah dan aku yakin bahwa siapa pun dari mereka yang meminta petunjuk, mereka akan menerimanya. Dan bagi ia yang kafir dikarenakan oleh hasratnya akan dunia yang menjijikan ini, maka aku menantangnya untuk duduk bersama dan melakukan Mubahila sehingga siapa pun yang hidup akan terlihat jelas oleh semuanya bahwa ia akan hidup dan siapa pun yang mati akan terlihat jelas bahwa ia akan mati.

Jadi barangsiapa yang menerimaku dengan menerima kebenaran (yang aku bawa) akan menang di kehidupan ini dan di kehidupan setelahnya dan akan berbahagia. Dan barangsiapa yang menolakku, ia akan menolak kebenaran dan akan kalah di kehidupan ini dan kehidupan setelahnya. Dan segera kalian akan lihat dosa apa yang kalian telah perbuat dan kesucian apa yang telah kalian rusak dan penyesalan tidak akan ada gunanya. Dan segera aku akan menjadi penanggung jawab bagi kalian semua.”

“Wahai kalian para tiran!! Jangan pernah merasa girang karena aku meninggalkan kalian dan berhijrah dari tanah kalian, karena itu tidak akan berlangsung lama sampai aku kembali, bersama ayahku, Muhammad putera Al Hassan, Al Mahdi, salam baginya, yang tidak akan pernah memberikan apapun kepadamu kecuali pedang dan kematian di bawah bayangan pedang!”

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun, darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh, supaya aku termasuk golongan, orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia, dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. “ {QS 10:72-73}


Abu Abdullah (as) berkata, “Rasulullah (sawas) berkata kabar gembira bagi siapapun yang menyadari (eksistensi) Al Qaim dari Ahlul Baytku dan meneladani perbuatannya sebelum kebangkitannya, mendukung para pendukungnya dan bersaksi bahwa ia tidak bersalah atas apa yang diperbuat oleh musuhnya, dan mengikuti (perintah) para Imam sebelumnya, mereka adalah sahabat-sahabatku dan kecintaanku dan yang paling terhormat dari bangsaku. Rifaa’ berkata, “(Dan ciptaan Allah yang paling terhormat bagiku).” – Ghaybat Al-Toosi hlm 456, Bihar Al-Anwar, vol 52 hlm 130

Imam Al Baqer (as) berkata, “Kebangkitan Sufyani, Yamani dan Khurasani berada di dalam satu tahun, satu bulan, satu hari, berurutan teratur seperti urutan tasbih, beberapa orang akan mengikuti beberapa dari mereka dan kesengsaraan akan ada di setiap wajah mereka, celakalah bagi mereka yang menjauhi mereka dan tidak ada satu panji pun yang lebih memberikan petunjuk daripada Panji Yamani, panjinya adalah panji petunjuk karena ia menyerukan (mengundang) kepada Sahib (sahabat) al Zaman (as), jadi apabila Yamani bangkit ia akan melarang perjualbelian senjata bagi orang-orang dan bagi setiap Muslim, dan apabila Yamani bangkit maka bangkitlah ke arahnya, karena tentu saja panjinya adalah panji petunjuk, dan tidak diizinkan bagi setiap muslim untuk berpaling darinya, dan barangsiapa yang melakukannya maka ia adalah berasal dari penghuni api neraka, karena ia menyerukan kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” – Ghaybat Al-Numani hlm 264

Di sini para Imam maksum menjelaskan peringkat dan posisi al Yamani, dan menjelaskan tentang kewajiban untuk bergabung dengannya dan ingatlah bahwa Allah (SWT) hanya mewajibkan kita untuk mematuhi Imam maksum saja.


Jadi bagaimana caranya seseorang mengenali Yamani yang dijanjikan, petunjuk di zamannya? Ia dikenali melalui dekrit Ilahiah, Wasiat Nabi Muhammad (sawas) yang telah dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT sehingga hanya yang berhaklah yang dapat mengklaimnya dan tidak ada yang lainnya karena apabila yang tidak berhak mengklaimnya maka usianya akan dipotong pendek. Dan tidak ada seorang pun di sepanjang sejarah manusia yang pernah mengklaim Wasiat itu kecuali pemiliknya yang sah yaitu Ahmed Al Hassan (as) yang dianugerahi pengetahuan atas apa yang kasat mata (unseen)/tersembunyi.

Mengapa kita membutuhkan orang yang mengklaim Wasiat jika Imam Al Mahdi sudah datang? Hal itu dikarenakan kapanpun seseorang mengklaim bahwa ia adalah Khalifah Allah maka ia harus memberikan bukti secara spesifik yaitu Teks Ilahiah dan dikenali karena pengetahuannya juga merupakan kriteria esensial. Dan karena menurut salah satu dari hadist Ahlul Bayt yang mengatakan bahwa Al Hujjah/Khalifah Allah ketika ditanyakan tentang sesuatu, ia tidak akan mengatakan aku tidak tahu. Jadi kita punya kriteria ini yaitu bahwa satu dari mereka yang berada di dalam masa kegaiban yang panjang dapat menjawab pertanyaanmu tentang hal-hal luar biasa begitu kamu bertanya kepadanya. Hanya al Yamani yang memenuhi kriteria-kriteria itu yang “membawamu ke jalan yang lurus”.

“Tidak ada seorang pun yang akan mencelakai mereka apabila seseorang tidak bergabung dengan mereka atau menolak mereka karena mereka telah tertulis di dalam teks Rasulullah (sawas).” – Kamal Aldeen hlm 247

Ali putera Hussein (as) berkata, “Imam haruslah seorang yang maksum dan kemaksuman tidaklah berasal dari karakter luar (fisik) dan kemudian ia akan dikenali karenanya, itulah mengapa Imam harus disebutkan di dalam teks.” –Maani Al Akhbar hlm 132

Jadi setiap orang yang mengklaim tentang kemaksumannya maka ia haruslah disebutkan di dalam teks Ilahiah dan Wasiat Nabi akan menggenapkannya.

Dari Abi Baseer: Aku berkata kepada Abi Al Hassan (as), “Semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu, bagaimana caranya kita mengenali seorang Imam?” Ia menjawab, “Dengan beberapa ciri, yang pertama adalah dengan mengetahui ada sesuatu yang diturunkan dari ayahnya kepadanya yang memberikan indikasi tentangnya, sehingga itu yang akan menjadi bukti baginya dan ia akan ditanyai dan ia akan menjawab.” – Kafi vol.1 hlm. 280


Bagi mereka yang memperdebatkan tentang Al Yamani yang dijanjikan, Ahmed Al Hassan (as), maka, “Apabila terbukti bahwa ia adalah seorang yang maksum maka kamu harus taat kepadanya. Perintah bagi kita adalah untuk mengenali Imam maksum dan taat kepadanya.” – Lady Norhan Alquersh

Aban menceritakan bahwa Abu Abdillah (as) berkata, “Pengetahuan itu terdiri dari 27 huruf (bagian). Semua yang para Nabi bawa hanyalah dua huruf saja. Maka sampai hari ini orang-orang belum mengetahui kecuali yang dua huruf itu. Tetapi ketika Al Qaim bangkit, ia akan mengeluarkan 25 huruf sisanya dan ia akan menyebarkannya kepada semua orang dan ia akan menambahkan yang dua kepada yang 25 huruf sehingga ia akan menyebarkan 27 huruf.” – Bihar Al Anwar oleh Al Majlisi, vol 52 hlm 336

Dan Al-Baqir (as) berkata: (Sesungguhnya ia dinamakan Al-Mahdi (yang diberi petunjuk) karena ia memberikan petunjuk kepada suatu perkara yang tersembunyi, petunjuk yang besar sehingga ia akan mengirimkan kepada seorang laki-laki untuk dibunuh (walaupun) orang-orang tidak mengetahui dosa apa yang sudah dilakukan laki-laki ini) – Bihar Al Anwar, vol 52 hlm 389



Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa Muhammad Baqir (as) berkata:
“Puncak dari sesuatu hal, yang paling tinggi darinya, kuncinya, gerbang dari setiap hal dan kegembiraan bagi ar-Rahman, Maha pemberi Berkat, Maha Agung adalah mematuhi Imam setelah mengenalnya.” Kemudian ia berkata, “Allah Maha Pemberi Berkat Maha Agung berfirman: Barangsiapa yang mematuhi Rasul, dengan demikian mematuhi Allah; dan barangsiapa yang berpaling darinya – Kami tidak pernah mengirimkan kamu untuk mengawasi mereka. Dan jika seseorang mendirikan salat di waktu malam, berpuasa di siang hari, memberikan semua hartanya dalam bentuk sadaqah dan berhaji setiap tahun selama hidupnya tetapi ia tidak mengenali Wali Allah untuk ia ikuti dan sehingga ia melakukan kebaikan itu berdasarkan pertunjuknya, maka orang itu tidaklah memenuhi persyaratan untuk menerima pahala apapun dari Allah dan ia bukanlah dari golongan orang yang beriman.”

Juga di dalam sebuah kabar yang otentik dari Isa bin as-Sirri Abul Yasa dikatakan bahwa ia bertanya kepada Imam Ja’far Sadiq (as):

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengurangi pengakuan kepada pilar-pilar Islam dan jika seseorang mengacaukannya, agamanya akan menjadi rusak dankebaikannya tidak akan diterima di pengadilan Allah. Dan seseorang yang mengenali pilar-pilar Islam dan bertindak sesuai petunjuk mereka, agamanya akan diterima oleh Allah dan ia tidak akan diazab karena mengetahui perkara-perkara yang lain. Mereka bertanya: Tolong sebutkanlah satu persatu pilar-pilar itu. Imam berkata:

“Bersaksi bahwa ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dan percaya bahwa Muhammad (sawas) adalah Nabi dan Rasul Allah dan mengakui bahwa Muhammad (sawas) telah dikirimkan oleh Allah, dan mengeluarkan zakat dari harta dan Wilayah yang Allah Maha Kuasa telah perintahkan adalah Wilayah dari Aale (Keluarga) Muhammad (as).” – Usool Al Kafi, vol 1


Argumen dan alasan yang sama yang dianjurkan untuk membuktikan keharusan dan perlunya akan eksistensi Nabi juga bisa diterapkan dalam membuktikan tentang perlunya keberadaan dari penerus Nabi. Bahwa sesudah wafatnya Nabi, merupakan suatu keharusan bahwa Hujjah Allah selalu ada sehingga seluruh ciptaan Allah akan selalu berpaling kepadanya untuk memelihara mereka dari kekurangan-kekurangannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Oleh karenanya, Allah SWT menunjuknya dan merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia untuk mengetahui Imam karena tidaklah mungkin untuk mengikuti Imam tanpa mengetahui dan mengenalinya. Imam (as) berkata di dalam bukunya, Kitab Monoteisme:

“Dan ketuhanan adalah seperti kepemimpinan, di dalam arti bahwa sebagaimana kepemimpinan mencakup (mengelilingi) si ayah, karena ia adalah kepala keluarga, maka ketuhanan juga mencakup Khalifah/Wali Allah di bumi mengingat bahwa dialah penguasa/pemimpin di bumi [Dan terang-benderanglah bumi dengan cahaya (keadilan) Rabb-nya] {QS 39:69}
Al-Sadiq (as) berkata mengenai ayat ini:
Dan terang-benderanglah bumi dengan cahaya (keadilan) Rabb-nya {QS 39:69} (Rabb di bumi adalah Imam).”

Allah SWT telah berjanji kepada umat manusia di dalam Al Quran bahwa bumi akan terang-benderang dengan cahaya Rabbnya dan cahaya itu adalah Wali Allah SWT, maka mengingkari apa yang telah Imam Ahmed Al Hassan katakan berarti mengingkari firman Allah. Karena Ahlul Bayt (as) tidak pernah berpisah dari Al Quran dan Imam (as) akan selalu merujuk kembali kepada Al Quran dan hal itu akan menjadi bukti ke atas orang-orang.


Apakah alasan lainnya sehingga penting bagi kita untuk mengenali Al Hujjah pada masa Ahmed Al Hassan (as)? Karena Imam Al Mahdi (as) adalah kota pengetahuan dan setiap kota pasti mempunyai pintu dan Ahmed Al Hassan (as) adalah pintunya.

Dan sebagaimana yang Imam (as) sebutkan di dalam bukunya, Kitab Monotheisme:

Rasulullah (sawas) berkata: “Akulah Kota Pengetahuan dan surganya dan engkau, wahai Ali, adalah pintunya. Oleh karenanya, bagaimana seseorang dapat dipandu menuju surga tanpa melalui pintunya?”

Dan dari Rasulullah (sawas): “Aku adalah Kota Pengetahuan (Kebijaksanaan) dan Ali adalah Pintunya, maka kepada siapapun yang mencari kebijaksanaan biarkanlah ia datang dan mendapatkannya dari Pintuku.”

Oleh karena itu, pencuri adalah ia yang memasuki sebuah rumah tanpa melewati pintunya. Pencuri itu menyatakan ia dapat memasuki sebuah kota tanpa mengenali gerbang kotanya atau benci untuk melewati gerbangnya padahal itu adalah sesuatu yang bermoral untuk dilakukan maka ia tidak akan mendapat manfaat apapun atau hasil apapun dari kota itu.


Dan orang-orang mungkin memperdebatkan pada pengertian literal bahwa Imam Ali (as) adalah Pintunya dan tidak ada orang lain kecuali Ali (as) dan untuk hal ini Imam Ahmed Al Hassan (as) mengatakan di dalam Kitab Monotheisme:

“Oleh karena itu, mungkin kita mengatakan: bahwa Ali, dialah yang berbicara kepada Musa (as), tetapi tepatnya bahwa seseorang yang berbicara kepada Musa (as) adalah dari keturunan Muhammad (sawas) dan ia sedang diperintahkan atas perintah Ali (as) dan Ali menerima perintah dari Muhammad (sawas) dan Muhammad menerima perintah dari Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa.”

Dan ia (as) adalah Al Hussain (as) dan ia adalah keturunan dari Nabi Muhammad (sawas) dan ia sedang diperintahkan atas perintah Ali (as). Al Hussan (as) adalah pintu menuju Imam Muhammad Mahdi (as). Aba Sadiq Abdullah Hashem (as) adalah pintu menuju Al Hussain (as).

Imam Ja’far as-Sadiq (as), dalam penjelasannya mengenai ayat di dalam Al Quran yang mengatakan: “Kemudian dikembalikanlah Kami kepadamu, giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu ….” (QS 17:6}, mengatakan bahwa “dikembalikanlah” berarti kembalinya Al-Hussain, yang akan ditemani oleh 72 sahabatnya yang terbunuh bersamanya di padang peperangan Karbala. Sahabat-sahabatnya akan mengumumkan kembalinya Al Hussain kepada umat manusia. Pada saat yang sama Imam mengatakan bahwa orang-orang Mukmin tidak seharusnya meragukannya karena ia bukanlah Dajjal ataupun Iblis. Al Qaim akan berada diantara orang-orang. Ketika orang-orang telah merasa yakin bahwa ia adalah Al Hussain (as), Al Qaim akan wafat, dan Al Hussain akan melakukan ritual penguburannya dan memakamkannya.
Bihar al-Anwar, vol 51 hlm 102


Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ia adalah Al Hussain (as) kecuali Al Hussain (as) sendiri dengan bukti-buktinya yang banyak. Wahai engkau yang menyatakan mencintai Muhammad dan Aale Muhammad, Imammu Jafar Al Sadiq (as) telah memperingatkanmu supaya tidak meragukannya dikarenakan kebodohanmu.

Mereka akan mengatakan bahwa Nabi Muhammad (sawas) adalah nabi terakhir dan tidak akan ada lagi seorang pemberi peringatan sesudahnya. Tentu saja, Muhammad (sawas) adalah yang terakhir dan yang terbaik di antara semua nabi, tetapi apakah kami mengatakan bahwa Ahmed Al Hassan adalah seorang nabi? Tidak. Kami berkata ia adalah Mahdi Pertama, sesorang yang akan memberi jalan bagi Imam Muhammad Mahdi (as). Ia adalah seseorang yang Nabi (sawas) sebutkan di dalam Wasiatnya, menyangkalnya berarti menyangkal Nabimu. Dan apakah mereka betul-betul percaya bahwa Allah akan mengabaikan planet bumi tanpa HujjahNya, seorang pemberi petunjuk bagi umatNya? Wahai kalian yang bebal, apakah kalian sungguh-sungguh percaya bahwa waktu dan era ketika kalian hidup sekarang berbeda dengan bangsa-bangsa terdahulu yang Allah telah ciptakan dan hancurkan dikarenakan alasan dan dalih yang sama yang diberikan oleh orang-orang pada masa sekarang? Kamu katakan bahwa Kitab Allah saja sudah cukup bagimu. Bagaimana mungkin seorang murid berkata bahwa ia tidak membutuhkan seorang guru untuk membuatnya mengerti akan isi buku itu dan bahwa ia ok saja dengan hanya membeo dan tidak mendapatkan apapun darinya. Atau ia akan berguru kepada yang telah mereka pilih sendiri bukan yang Allah telah pilihkan bagi mereka. Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu dibebaskan dari ujian dan cobaan yang sama yang pernah diberikan kepada bangsa-bangsa sebelum kamu? Apakah ini dikarenakan kebodohanmu atau malahan kesombonganmu dan hasratmu akan dunia yang menjijikan ini? Tanyakanlah kepada Tuhanmu, wahai engkau orang-orang yang bingung, dengan beristikhara ke atas perkara ini, karena perkara ini melibatkan jiwamu dan akhiratmu dan jangan tukarkan dengan sesuatu yang murah, semurah kotoran.


Diriwayatkan melalui sumber-sumber terpercaya bahwa Imam Sadiq (as) berkata: Bumi tidak memiliki kemampuan untuk tetap ada dan bertahan melainkan karena Imam dan bahwa seseorang yang meninggal tanpa mengetahui Imam Zamannya maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah. Setiap orang dari kalian sangat-sangat membutuhkan pengetahuan tentang Imam ketika jiwamu mencapai ini (tangannya menunjuk pada dadanya) dan berkata: ia akan berkata pada saat itu bahwa aku berada di jalan yang tepat dan iman yang benar dan ini adalah waktunya ketika semua kejadian di akhirat ada di depan matanya dan ia dapat mengamatinya dengan jelas.

Diriwayatkan dalam rantai perawi yang benar bahwa Husain bin Abil Ulaa berkata: Aku bertanya kepada Imam Sadiq (as) tentang perkataan Nabi (sawas) bahwa apabila seseorang meninggal tanpa mengetahui Imamnya maka matinya adalah mati dalam keadaan jahiliyah. Imam menjawab: Ya, itu benar. Jika saja orang-orang mengikuti Imam Ali bin Husain (as) dan meninggalkan Abdul Malik Marwani, mereka akan mendapatkan petunjuk. Kami berkata bahwa seseorang yang meninggal dan tidak mengenali Imamnya maka ia meninggal di dalam keadaan kafir. Imam (as) berkata: Tidak, tetapi tepatnya ia meninggal di jalan selain jalan dari nabinya.

Untuk para munafik dan yang tak beriman yang tidak dapat menerima kemungkinan tentang adanya dunia Ruh ketika ia menyatakan bahwa ia mempercayai Allah Penguasa SEGALA ALAM.

Al-Mufaddal ibn Umar menceritakan bahwa Imam al-Sadiq (as) berkata:

“Sesungguhnya Allah memilih diantara ruh-ruh yang ada di dalam Bayangan-bayangan (Shadows), kemudian Ia membuat mereka menempati tubuh-tubuh. Maka ketika Qaim kami muncul, ia (atau saudaranya) akan mewarisi saudaranya yang Allah telah pasangkan ia dengannya ketika ia masih berada di dalam alam Bayang-bayang, dan ia tidak mewarisi saudaranya dari LAHIR. KETAHUILAH IA DARI (PERKARA) ITU, dan barangsiapa yang mengetahuinya maka tidak diperlukan lagi bukti-bukti terhadapnya.”

Dan di dalam versi yang lain:

Imam al Sadiq (as) berkata: Sesungguhnya Allah Yang Penuh Rahmat Yang Maha Agung telah memasangkan (partnered) ruh (dengan ruh lainnya) sebagai saudaranya di dalam Bayangan-bayangan, dua ribu tahun sebelum Ia menciptakan raga. Maka ketika Al Qaim dari kami Ahlul Bayt bangkit, ia (atau saudaranya) akan mewarisi saudaranya yang Allah telah pasangkan ketika ia masih berada di dalam alam Bayang-bayang, dan ia tidak akan mewarisi saudaranya dari lahir.

Ketahuilah ia dari (perkara) itu, dan barangsiapa yang mengetahuinya maka tidak diperlukan lagi bukti-bukti terhadapnya. – Lady Norhan Alquersh (as)

Dan seseorang yang menolak Imam adalah ia yang mati tanpa mengetahui Imam Zamannya maka ia akan mati dalam keadaan Kufur dan Nifaq (Kufur dan Munafik). Dan tentu saja ia berasal dari golongan orang-orang yang merugi.

Kesimpulannya, ada lautan bukti-bukti bagi kalian dan begitu terang-benderang seperti matahari di siang hari bahwa Ahmed Al Hassan adalah Mahdi pertama dan ia adalah Yamani yang dijanjikan dan ia adalah Al Hussain (as), putera Imam Mahdi (as) di dunia ruh. Ia datang dengan bukti Wasiat, senjata dari Nabi Muhammad (sawas). Kemaksumannya didukung oleh banyak penglihatan (vision) dan mimpi dan kerajaan-kerajaan surga. Pengetahuannya tentang sesuatu yang kasat mata (unseen) dan 25 huruf pengetahuan akan membuat umat manusia kagum dan takjub. Dan bagi seorang mukmin, satu bukti saja tentangnya sudah cukup.

Wahai kalian yang terkutuk, Anak Sapi dan Samiri (la) dan pengikut-pengikutnya yang bebal, majulah dan masukanlah jiwamu ke dalam barisan jika kalian adalah yang benar karena pemilik perkara ini ada di sini dengan Ayahnya dan jika kalian tidak berpaling kepadanya dan bertobat maka akhir hidup kalian akan dalam kesengsaraan yang dahsyat. Dan apa yang lebih dahsyat dari murka Allah, Yang Maha Esa, Maha Penguasa.

Oleh karena itu, marilah kita mengagungkan dan berterima kasih kepada Rabb kita atas kasih sayang dan berkatNya yang besar yang tidak dapat diukur sehingga kita dilahirkan pada masa Al Qaim (as).

Salam ke atas Imam Zaman kami Imam Ahmed Al Hassan (as), penerus Imam Muhammad Mahdi (as).


Allahumma salle ala Muhammad wa Ale Muhammad al Aemma wal Mahdyeen wa salem tasleeman Katheera

Salam, À ceux qui ne jurent que par le Coran… […]

A- Nom nouveau du Mahdi.

Salam, Le Coran et Al-Kawthar sont reliés. A-1[…]