#65012
PERIODE KEEMASAN - RAJAH/DIKEMBALIKANNYA RUH KE DUNIA

Nabi Muhammad (SAWA) melukiskan periode dari masa keemasan dengan ciri-ciri surgawi. Banyak hadist yang meriwayatkan keberadaan dari sebuah periode ketika nilai-nilai moral dari Quran akan melingkupi bumi. Periode ini, dikenal sebagai Era Keemasan, akan berlangsung selama lebih dari setengah abad dan, dalam banyak hal, akan menyerupai ‘Masa Keberkahan’ semasa Nabi Muhammad (SAWA) memerintah. Menurut salah satu hadist, manusia akan begitu bahagia hidupnya sehingga mereka tidak menyadari berlalunya waktu dan tidak menyadari bagaimana satu hari berganti ke hari berikutnya. Mereka akan berdoa kepada Allah untuk memanjangkan umur mereka supaya mereka dapat menerima lebih banyak manfaat dari rahmat tersebut.
Hadist itu berbunyi sebagai berikut : “Anak-anak muda berharap mereka segera dewasa, sementara orang dewasa menginginkan menjadi lebih muda.... Semua yang sudah baik akan menjadi lebih baik lagi.”
(Al-Muttaqi Al-Hindi, Al Burhan fi Alamat Al Mahdi Akhir Al Zaman, hlm 17)

Di dalam banyak hadist, Nabi Muhammad (SAWA) menyatakan bahwa akan ada hasil panen dan barang-barang yang berlimpah yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan semuanya akan dibagi-bagikan tanpa ada perhitungan (untung-rugi) : “Selama (periode) ini, umatku akan berada pada jenis kehidupan yang nyaman dan menyenangkan yang mereka belum pernah ketahui sebelumnya. (Ladang) akan memberikan hasil panen dan tidak akan ada sesuatu pun yang bisa menahannya...”
(Ibnu Majah)

Akan ada penerus di (masa) akhir dari umatku yang mereka akan dengan leluasanya memberikan segenggam kekayaannya tanpa perhitungan untung-rugi.
(Sahih Muslim, Kitab 41, 6961)

Penghuni surga dan penghuni bumi akan merasa puas dan gembira dengan kedatangannya dan tumbuh-tumbuhan tertentu akan dihasilkan sehingga orang-orang akan berharap yang mati bisa kembali hidup.
(At Tabarani dan Abu Nu’aym)

Daratan akan berubah seperti pinggan perak karena tanaman yang tumbuh....
(Ibn Majah)

Suatu masa akan datang ketika seseorang, dengan derma keemasan di tangannya akan berkeliling, dan tidak bisa menemukan siapapun yang mau menerima sedekahnya.
(Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)

Sebelum Masa Keemasan adalah Masa Kembalinya Bangsa-Bangsa yang Besar. Kembalinya para Nabi, semua Imam, dan orang-orang mukmin yang shaleh. Masa ini adalah masa Imam Mahdi (as) yang akan membawa keadilan kepada semua insan yang dimulai dari masa Nabi Adam (as). Rajah (kembalinya ruh ke alam dunia) bukanlah topik yang tidak biasa. Al Quran menyatakan : Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Al Ghafir : 11). Masa Rajah adalah kembalinya banyak ruh termasuk Imam Hussein (as) yang akan mendapatkan keadilan dan semua tiran akan mendapatkan hukuman yang pedih.

Berikut ini adalah hadist-hadist yang meriwayatkan dari berbagai sumber yang menyatakan tentang kembalinya ruh dan kembalinya Imam Hussein (as) beserta sahabat-sahabatnya dan juga kembalinya ruh-ruh jahat.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal tadinya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan?
(Quran Surah Al Baqarah : 28)

Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).
(Quran Surah An Naml : 83)
Dan ingatlah akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.
(Quran Surah Al Kahf : 47)

Imam Ja’far Al Sadiq (as) telah berkata, “Selama masa Rajaah, sesudah kemunculan Imam Mahdi (as), pertama-tama Imam Hussein akan dihidupkan bersama 70 Nabi. Ketika Imam Mahdi mencapai ajalnya, beliau akan menyerahkan cincin (kekuasaannya)nya kepada Imam Hussein yang nantinya akan menguburkan jazad Imam Mahdi.” Imam (as) juga menyatakan, “Setelah kemunculannya, Imam Mahdi akan memasuki Kufa dan dari pemakaman di Najaf, yang disebut sebagai Waadiussalam, Allah akan menghidupkan 70.000 mukmin sejati yang akan membantu Imam Mahdi.”
Selama masa Imam Mahdi (semoga Allah mempercepat kedatangannya yang penuh berkah), Rasulullah (SAWA) dan Imam-Imam maksum (as) akan kembali ke bumi di dalam tubuh-tubuh laki-laki yang berasal dari masa lalu dan bangsa-bangsa selanjutnya, dengan perspektif mereka untuk memperlihatkan kekuatan mereka dan mengokohkan hak-hak mereka.
(Tenets of Islam, oleh Shaikh Tusi)

“Jaysh Al Ghadab dari Al Qaim akan ditugaskan ke Damaskus untuk menangkap As Sufyani. Mereka akan menangkapnya dan memenggal kepalanya di atas batu. Ini adalah masa Al Hussein yang menjelma bersama 12 ribu pengikutnya sebagai tambahan kepada 72 orang yang terbunuh bersamanya di Karbala.”
Tetapi, seperti telah diterangkan sebelumnya, Mahdi Al Hussein tidak akan menjelma untuk yang pertama kalinya dengan siapa pun syuhada di Karbala. Oleh karena itu, hal ini mengacu pada bahwa ini sama sekali bukanlah kali pertama atas kemunculan Al Hussein (as) ketika beliau (as) kembali/rajaah, karena beliau (as) akan termasuk ke dalam yang pertama dari 313.
( Bihar Al Anwar , vol 2, hlm 1232, Majlisi mencuplik Al Mufid, yang mengutip jawaban yang diberikan Ash-Sharif Al-Murtada tentang Raja’ah A’immah)

Imam Al Baqir (as) berkata pada sekumpulan penduduk Kufa bahwa Al Hussein akan kembali dan memerintah selama beberapa lama sampai ketika alis matanya menyentuh matanya (yaitu sampai ketika kulit keningnya menjadi kendur karena usia tua sehingga alis matanya mulai mendekati matanya). Terlebih lagi, terdapat riwayat dari Imam Sadiq (as) yang menambahkan bahwa Mahdi Al Hussein yang akan bertanggung jawab atas penghakiman semua perbuatan manusia sebelum dan sesudah kebangkitan Selestial (di bumi dan di langit), ketika manusia akan memasuki neraka atau surga berdasarkan pertimbangan dari Al Hussein.
(Bihar Al Anwar, vol 2, hlm 1189)
Banyak sekali hadist yang meriwayatkan kembalinya Imam Hussein (as) bersama sahabat-sahabatnya ke dunia (Rajah). Terlebih lagi beberapa hadist menyebut Imam Hussein sebagai ‘Mahdi’, sementara beberapa mengatakan bahwa beliau berasal dari ‘313’. Ahmed Al Hassan (as) telah mengklaim dirinya sebagai Al Yamani, beliau (as) telah mengeluarkan senjata dari Nabi Muhammad (SAWA), yaitu Surat Wasiat. Ahmed Al Hassan (as) sebagai Al Yamani (as) adalah yang pertama dari 313 dan juga beliaulah Mahdi Pertama. Siapakah Ahmed Al Hassan? Ahmed Al Hassan (as) adalah seseorang yang telah kembali bersama sahabat-sahabatnya. Dialah Al Hussein (as).

Salih ibn Sahal meriwayatkan dari Abu Abdullah (as) di dalam hubungannya dengan QS Al Isra : 4-6 yaitu :
“Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali.....” Ayat ini mengacu pada pembunuhan Amirul Mukminin (as) dan Al Hassan (as).
“... dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar,” ayat ini mengacu pada pembunuhan Al Hussein (as).
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu...,” mengacu pada kejadian pembalasan dendam atas darah Al Hussein (as).
“Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung...,” adalah tentang suatu bangsa yang Allah kirimkan sebelum kemunculan Al Qaim, yang tidak akan menyisakan satu pun pelaku kejahatan terhadap Keluarga Muhammad (SAWA) melainkan akan membakarnya (pelaku kejahatan).
“... Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana,” menunjuk pada masa sebelum kemunculan Al Qaim.
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar,” mengacu pada kedatangan Hussein (as) di dalam masa Rajaahnya bersama dengan 70 orang sahabatnya yang syahid bersamanya. Mereka akan memakai jubah putih yang dihiasi benang emas, di setiap jubah terdapat dua sisi. Berita yang sampai kepada umat manusia adalah bahwa Hussein (as) telah datang bersama dengan sahabat-sahabatnya, sehingga orang-orang mukmin tidak akan meragukan bahwa ia bukanlah Dajjal atau Iblis. Imam (Al Hujjah) as. akan berada diantara umat pada hari itu. Ketika orang-orang mukmin mengetahui bahwa ia adalah Al Hussein , mereka tidak akan meragukannya. Dan ketika berita tentang Al Hussein, yang menyerukan manusia untuk kembali kepada Al Hujjah Al Qaim, datang kepada manusia dan orang-orang mukmin membenarkannya, Al Hujjah akan wafat. Dan yang akan memandikan, mengafani, dan memberikan wewangian, dan menguburkannya adalah Al Hussein. Pewaris tidak akan mewariskan sesuatu kecuali kepada ahli warisnya. Ibrahim meriwayatkan bahwa Al Hussein akan memerintah sangat lama yaitu sampai alis matanya mendekat pada matanya karena usia tua.
(Bihar Al Anwar, vol 51, hlm 102)

Imam Ja’far As Sadiq (as) dalam penjelasannya tentang ayat Al Quran yang berbunyi, “Kemudian dikembalikannyalah kepadamu dan Kami berikan giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu ... (QS 17 : 6), mengatakan bahwa “dikembalikannya” berarti kembalinya Al Hussein bersama 72 sahabatnya yangterbunuh bersama beliau di medan perang Karbala. Sahabat-sahabatnya akan mengumumkan kembalinya Al Hussein kepada umat manusia. Pada saat yang sama Imam (as) mengatakan bahwa orang-orang mukmin tidak seharusnya meragukannya karena ia bukanlah Dajjal atau Iblis. Al Qaim akan berada di antara umat. Ketika umat telah yakin bahwa ia adalah Al Hussein, Al Qaim akan wafat dan Al Hussein yang akan melaksanakan ritual penguburan dan menguburkannya.
(Bihar Al Anwar, vol 2, hlm 1220)

Menurut salah satu riwayat, Imam Al Baqir (as) mengatakan bahwa Al Mahdi akan memerintah selama 309 tahun. Tentu saja hal ini kelihatannya cocok dengan pemikiran bahwa Mahdi Al Hussein akan memerintah “selama beberapa waktu sampai alis matanya mendekati matanya”. Angka tersebut di atas adalah jumlah tahun yang dihabiskan oleh Ashabul Kahfi (penghuni gua), seperti yang telah disebutkan di dalam Al Quran Surah 18, untuk tertidur di dalam gua. Selama masa tersebut, Imam (as) berkata bahwa pemerintahan yang berdasarkan keadilan dan persamaan akan ditegakkan di seluruh penjuru bumi.
(Tabarsi, I’lam, hlm 961)

Al Quran Surah Al Kahfi : 9 - 26
9. Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa : “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu
12. kemudian kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)
13. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;
14. dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata : “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-sekali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakan yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyedikan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
17. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
18. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
19. Dengan demikianlah Kam bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang diantara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.
20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”
21. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”
22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan dia (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima, orang yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap barang yang ghaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itum janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun diantara mereka.
23. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,”
24. kecuali (dengan menyebut): “InshaAllah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
25. Dan mereka tinggal di dalam gua mereka 300 tahun dan ditambah 9 tahun (lagi).
26. Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaanNyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripadaNya; fan Dia tidak mengambil seirang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan.”

Tiga ratus sembilan tahun, yang dihubungkan dengan jumlah tahun ketika Ashabul Kahfi disembunyikan, menggambarkan hubungan yang paralel antara transformasi dunia pada masa itu dan pada masa yang akan terjadi selama pemerintahan Mahdi Al Hussein. Ketika Ashabul Kahfi bersembunyi, Kerajaan Romawi sedang berkuasa dimana para pengikut Nabi Isa (as) dikejar-kejar dan bahkan dibunuh. Ketika mereka muncul pada masa kekaisaran Romawi dan berbaiah kepadanya (terlepas dari fakta bahwa baiah ini sifatnya simbolis/namanya saja). Dunia yang mereka lihat telah berubah. Alih-alih memburu pengikut-pengikut Isa (as) seperti yang Paulus dari Romawi akui bahwa hal itu dilakukan, Ashabul Kahfi muncul dan menemukan koin-koin yang bertuliskan nama Isa (as) dalam bahasa Yunani pada permukaan koin-koun tersebut. Tiga ratus sembilan tahun masa kekuasaan Mahdi Al Hussein mengindikasikan transformasi yang mirip (seperti yang dialami oleh Ashabul Kahfi).

Al Sadiq (as), dalam keterangannya tentang salah satu ayat Al Quran yang berbunyi: “Kemudian dikembalikanlah kepadamu dan Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu....” (QS 17 : 6), mengatakan bahwa kata “dikembalikanlah” berarti kembalinya Al Hussein bersama dengan 72 sahabatnya yang terbunuh bersamanya di padang pertempuran Karbala. Sahabat-sahabatnya akan mengumumkan kembalinya Al Hussein kepada umat manusia. Pada saat yang sama, Imam (as) mengatakan bahwa tidak seharusnya orang-orang mukmin untuk meragukannya, karena ia bukanlah antichrist (Dajjal) ataupun Iblis. Al Qaim akan berada di tengah-tengah umat. Ketika umat telah yakin bahwa ia afalah Al Hussein, Al Qaim akan wafat dan Al Hussein yang akan melakukan ritual pemakaman dan menguburkannya.
(Sumber: Sachedina, Islamic Messianism, hlm 168-169 mengutip Majlisi dari Bihar Al Anwar. Dari kumpulan ini, vol 13, memuat banyak hadist eschatological Syiah, yang telah dicetak secara terpisah sebagai Mahdiy-i-rnaw’ud. Sebagai referensi, lihat Sachedina hlm 221)

Sesungguhnya Al Quran telah datang untuk menyatakan tentang Raj’ah ke dunia ini seperti yang dinyatakan juga oleh hadist-hadist Ahlul Bayt (as) dan semua mazhab yang mengakui adanya imamah mempercayai hal ini, kecuali beberapa yang telah menginterpretasikan raja’ah adalah bahwa pemerinthan negara akan kembali kepda Keluarga Rasulullah dan bersama-sama mempunyai kekuatan untuk melarang dan memberi perintah dan bahwa hal ini akan terjadi ketika Yang Ditunggu telah datang, tanpa melibatkan kembalinya/rajaahnya orang-orang atau kembali hidupnya ruh orang-orang yang sudah mati.

H 14698 - Sejumlah sahabat, dari Sahl bin Ziyad, dari Muhammad bin Al Hassan bin Shammoun, dari Abdullah bin Abdul Rahman Al-A’asam, dari Abdullah bin Al Qasim Al Batl, yang telah mencerigakan kisah berikut ini.
Abu Abdullah (as) mengenai: “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali,” (QS 17 : 4), beliau (as) berkata : “Pembunuhan terhadap Ali bin Abi Talib (as) dan penusukan terhadap Al Hassan (as).”
Mengenai “... dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar,” (QS 17 : 4), beliau (as) berkata (ayat itu mengacu pada), “Pembunuhan Al Hussein.”
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu...,” (QS 17 : 5) berartu ketika pertolongan datang bagi (pembalasan atas) darah Al Hussein (as).
“... Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa lalu mereka merajalela di kampung-kampung...,” berarti bahwa sejumlah orang akan dikirimkan oleh Allah (azwj) sebelum kemunculan Al Qaim (atjf) yang akan membantu Al Qaim dan selalu berada di bawah perintahnya dan mereka tidak akan meninggalkan musuh-musuh dari keturunan Rasulullah (SAWA) kecuali dengan membunuh mereka.
“... Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana,” (QS 17 : 5) yang berarti adalah kedatangan Al Qaim (as).
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka,” (QS 17 : 6) mengacu pada kedatangan Al Hussein (as) dan 70 sahabatnya (as) yang akan mengenakan penutup kepala (helm) untuk melindungi mereka. Setiap helm mempunyai 2 faset untuk memperlihatkan kepada orang-orang bahwa ia betul-betul Al Hussein (as) yang telah muncul, sehingga orang-orang mukmin tidak mempunyai keraguan lagi tentangnya, dan bahwa beliau (as) bukanlah Dajjal (la) ataupun Shaitan (la), dan Al Hujjah Al Qaim (as) akan selalu memberi dukungan bagi orang-orang mukmin. Jadi ketika orang-orang mukmin telah yakin dan mengakui bahwa ia yang muncul adalah betul-betul Al Hussein (as), kematian akan menghampiri Al Hujjah (as). Dan yang akan memandikan jenazah Al Hujjah (as), mengafaninya (as), memberikan wewangian kepadanya (as), dan menguburkannya (as) adalah Al Hussein bin Ali (as), tak ada yang bisa mewarisi kekuasaan dari Al Hujjah (as) kecuali ahli warisnya sendiri (as).
(Sumber : Al Kafi, vol 8, hlm 14698, riwayat yang sama juga dapat ditemukan di dalam Bihar Al Anwar, vol 53, bab 4, hlm 103)

Ghaibat Tusi: Fazal telah menceritakan dari Ibn Mahbub, dari Amir bin Abu Miqdam, dari Jabir Jafi bahwa ia mendengar Imam Muhammad Baqir (as) berkata, “Demi Allah setelah Imam Qaim (as), seseorang dari kami, Ahlul Bayt (as), akan memerintah selama 309 tahun.” Aku berkata, “Kapankah itu akan terjadi?” Beliau (as) menjawab, “Sesudah Al Qaim.” Aku bertanya, “Untuk berapa lama Imam Qaim (as) akan memerintah di bumi setelah kemunculannya?” Beliau (as) menjawab, “Sembilan belas tahun dari sejak kemunculannya hingga beliau wafat.” Aku berkata, “Akankah ada kebingungan yang besar setelahnya?” Beliau (as) menjawab, “Ya, selama 50 tahun. Kemudian Muntasir akan kembali ke dunia (rajaah) dan ia akan membunuh musuhnya dan juga memenjarakan mereka. Setelahnya Saffah akan bangkit.”

Muntakhabul Basair: Saad telah menceritakan dari Ibne Isa dan Ibne Abil Khattab, mereka mendengar dari Bazanti, dan ia mendengar dari Hammad bin Uthman, dari Muhammad bin Muslim, bahwa ia mendengar Humran bin Ayyan dan Abul Khattab berkata: Kami mendengar Imam Ja’far Sadiq (as) berkata, “Yang pertama yang makamnya terbuka dan yang kembali ke dunia ini (rajaah) adalah Imam Hussein (as) dan Rajah tidak akan terjadi pada sebagian orang, hanya orang-orang mukmin yang suci dan orang-orang yang menduakan Allah yang akan mengalami Rajat.”
(Sumber Bihar Al Anwar, vol 53, bab 34, hlm 1)

Muntakhabul Basair: Saad telah menceritakan dari Ayyub bin Nuh dan Hasan bin Ali bin Abdullah dll, dari Abbas bin Aamir, dari Saeed, dari Dawood bin Rashid, dari Humran, dari Abu Ja’far Imam Muhammad Baqir (as) bahwa beliau (as) berkata, “Yang pertama melakukan Rajat adalah Imam Hussein (as) dan ia akan memerintah sedemikian lama hingga sampai alisnya mendekati matanya (karena tua usia).” Nabi Muhammad (SAWA) berkata, “... adalah Ahmad dan ia adalah orang mukmin yang pertama.”
(Ghaibat Al Toosi, hlm 151)

Di bawah ini adalah riwayat-riwayat dan ramalan-ramalan dari sumber-sumber lain berkenaan dengan kembalinya ruh ke dunia.


Yesaya 26 : 19
“... orang-orangMu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah, bangkitlah dan bersorak-sorai, sebab embun Tuhan ialah embun terang dan bumi akan melahirkan arwah kembali.”

Daniel 12 : 2
“Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian.”

Kebangkitan orang mati juga diramalkan oleh Nostradamus yang berkata, “orang-orang mati akan bangkit dari kuburnya.”

Imam Ali (as) berkata, “Wahai Salman (as)! Jika satu dari kami meninggal, maka dia tidaklah meninggal. Dan apabila seorang dari kami terbunuh, ia tidaklah terbunuh. Satu dari kami yang sedang dalam ghaiba melaksanakan tugas-tugasnya seperti yang kami kerjakan. Kami tidaklah dilahirkan ke dunia ini seperti manusia dilahirkan. Engkau tidak bisa membandingkan kami dengan manusia lainnya. Aku adalah suara Isa (as) ketika ia berbicara di dalam buaian. Aku adalah penolong Nuh (as) dan Ibrahim (as). Aku adalah seseorang yang akan menyampaikan murka Allah. Aku juga yang akan membuat manusia gemetar dan aku yang akan membuat gempa terakhir. Aku adalah Lauh Mahfuz dan semua pengetahuan di dalamnya berasal dariku. Aku bisa muncul dalam bentuk apapun yang dikehendaki Allah. Siapapun yang telah mengamati kemunculanku telah melihatku, dan siapapun yang telah melihatku telah mengamati Tanda-tanda Allah. Kami, maksumin (as), adalah Nur Allah yang tidak akan pernah bisa ditolak atau diganti. Wahai Salman (as)! Setiap Nabi mendapat penghormatan adalah karena kami. Engkau dapat memuji kami dengan gelar atau sebutan apapun yang ada di dalam imajinasimu, tetapi jangan sematkan atribut ketuhanan kepada kami. Orang-orang mencari keselamatan melalui kami dan mendapatkan kehancuran karena kami. Wahai Salman (as)! Ia yang percaya dengan kokoh kepada semua yang telah aku terangkan adalah seorang mukmin yang mempunyai hati yang telah teruji oleh Allah dengan keimanan dan ia telah mengenali status kami yang sebenarnya. Ia yang meragukan atau merasa ragu-ragu (akan kami) adalah seorang nashibi (musuh Allah) bahkan jika ia mengaku mempercayai wilayah kami, tetaplah ia seorang pendusta. Wahai Salman (as)! Diriku dan Para Pemberi Pedoman Ketuhanan dari keluargaku, Imam (as), adalah misteri Allah yang tersembunyi dan yang paling Allah cintai. Kami semua dalah satu. Amr (kekuasaan) kami satu. Misteri kami hanya satu. Oleh karena itu, janganlah mencari perbedaan diantara kami atau engkau akan hancur (tersesat). Kami akan muncul di setiap zaman sesuai kehendak Allah. Kesengsaraan akan menimpa orang-orang yang mengingkari kami. Hanya mereka yang mempunyai hati, mata, dan telinga yang tertutuplah yang akan mengingkari kami. Dari Sermon Khutbat Al Ma’rifat Al Nooraniya : Sesungguhnya Allah telah menciptakan kembali Imam Hussein (as).

Saleh ibn Sahal bercerita bahwa Abu Abdullah (as), berkenaan dengan ayat “Kemudian dikembalikanlah kepadamu dan Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali....,” berkata, “Kebangkitan Al Hussein (as) di dalam Rajaahnya bersama dengan 70 sahabatnya yang telah terbunuh bersamanya. Mereka akan mengenakan helm putih keemasan, setiap helm mempunyai dua sisi, dan mereka akan memimpin kaum mukmin untuk tidak meragukannya sehingga mukmin tahu bahwa ia bukanlah Dajjal ataupun Shaitan. Sementara itu Al Hujjah Al Qaim akan berada diantara mereka. Jadi, ketika keyakinan bahwa ia adalah Al Hussein sudah tertanam di hati orang-orang mukmin, kematian akan menghampiri Al Hujjah sehingga Al Hussein putera Ali (as) adalah yang akan memandikan jenazahnya, mengafaninya, memberi wewangian, dan menguburkannya. Dan tak ada yang mewarisi kekuasaan Al Hujjah (as) kecuali ahli warisnya (as).
(Bihar Al Anwar, vol 51, hlm 56)

Al Muqaram menceritakan bahwa Abu Ja’far Al Baqir (as) berkata :
Sesungguhnya Al Hussein (as) berkata kepada para sahabatnya, “Kabar gembira bagimu para penghuni surga, karena demi Allah kami akan tetap tinggal selama yang Allah inginkan setelah apa yang menimpa kami, kemudian Allah akan membawa kami dan kalian keluar ketika Al Qaim muncul, sehingga Dia akan menuntut balas pada para penindas dan aku, juga kalian, akan melihat mereka (penindas) dirantai, dan dibelenggu, dan disiksa.”

(Maqtal Imam Al Hussein as., dicetak oleh Dar Al Thaqafa hlm 215)
Burayd Al Ijli menceritakan bahwa Abu Abdullah (as) berkata di dalam hadist yang panjang, “Sesungguhnya Allah menjanjikan Al Hussein (as) untuk kembali ke dunia ini sehingga ia bisa menuntut balas atas dirinya kepada orang-orang yang yang telah berbuat (jahat) kepadanya.”

Imam Al Hussein (as) adalah Imam Ahmed Al Hassan (as), Mahdi Pertama, yang telah kembali ke dunia ini bersama para sahabatnya.

Jika Imam Ahmed Al Hassan (as) adalah Imam Hussein, lalu siapakah Imam Mhdi (as). Rasulullah (SAWA) berkata, “Hussein berasal dariku, dan aku berasal dari Hussein.”

Muntakhabul Basair : Saad telah menceritakan dari Ayyub bin Nuh dan Hasan bin Ali bin Abdullah dll, dari Abbas bin Aamir, dari Saeed, dari Dawood bin Rashid, dari Humran, dari Abu Ja’far Imam Muhammad Baqir (as) bahwa beliau (as) berkata, “Yang pertama melakukan Rajat adalah Imam Hussein (as) dan ia akan memerintah sedemikian lama hingga sampai alisnya mendekati matanya (karena tua usia).”

Muntakhabul Basair : Saad telah menceritakan dari Ibne Abil Khattab, dari Muhammad bin Sinan, dari Ammar bin Masruq,dari Munakhkhal bin Jamil, dari Jabir bin Yazid, dari Maula(nya), Abu Jafar Imam Muhammad Baqir (as) bahwa beliau (as) berkata mengenai ayat berikut :
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah lalu beri peringatan....” (QS Muddaththir : 1), Al Muddaththir (yang berkemul/berselimut) menyiratkan Nabi Muhammad (SAWA), dan “bangunlah lalu beri peringatan...” berarti kebangkitan beliau (SAWA) di masa Rajat dimana beliau (SAWA) akan bangkit untuk memberi peringatan kepada manusia, dan Allah berkata, “Sesungguhnya Saqar (salah satu neraka) adalah salah satu bencana yang amat besar sebagai peringatan bagi manusia.” ( QS Muddaththir : 35-36). Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah (SAWA) adalah pemberi peringatan kepada manusia selama masa Rajat. Juga perkataan Allah (SWT), “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan....” (QS Saba : 28)

Muntakhabul Basair : Saad telah bercerita dari Muhammad bin Sulaiman Dailami dari ayahnya bahwa suatu waktu ia bertanya pada Imam Ja’far Sadiq (as) berkenaan dengan perkataan Allah (SWT) : “Sesungguhnya Ia yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat tujuanmu,” (QS Qasas : 85)
Beliau (as) berkata, “Nabimu akan dikembalikan kepadamu.”
(Bihar Al Anwar, bagian 2)

Orang mukmin pertama diantara 313 adalah Imam Hussein (as) seperti yang tertulis di dalam banyak riwayat. Hadist-hadist menyatakan bahwa Rajaah akan terjadi dan kembalinya Al Hussein dan sahabat-sahabatnya ke dunia akan menjadi Rajaah yang pertama terjadi. Kita tahu bahwa Imam Hussein (as) akan menjadi yang pertama dari 313. Al Yamani (as) akan memanggil umat untuk kembali kepada Imam Mahdi (as), Al Yamani akan datang dengan senjata dari Rasulullah (SAWA) dan Al Yamani akan memanggil manusia kepada Al Qaim (as). Hadist-hadist dari Ahlul Bayt (as) menceritakan kepada kita bahwa Al Yamani akan menjadi yang pertama dari 313, dan ia bernama Ahmad. Satu-satunya yang mengklaim isi wasiat Rasulullah (SAWA) sepanjang sejarah adalah Ahmad Al Hassan (as) dan ini berarti bahwa ia adalah Al Hussein (as). Seperti yang kita ketahui, berdasarkan hadist dari Imam Jafar As Sadiq (as) , yaitu apabila wasiat Rasulullah (SAWA) diklaim oleh orang yang tidak berhak (bukan ahli warisnya) maka ancaman Allah adalah Allah akan mencabut nyawanya.

Imam Hussein (as) adalah Ahmad Al Hassan (as). Dalam rajaahnya kini ia bernama Ahmad, yang pertama dari 313, pendamping Al Qaim (as). Hadist-hadist juga mengatakan tentang Nabi Muhammad (SAWA) yang kembali dalam Rajaah sebagai Imam Mahdi (as).

Ghaibat Nomani : Diceritakan dari Ali bin Ahmad, dari Ubaidullah bin Musa, daru Abdullah bin Jabla, dari Ibni Bataini, dari ayahnya, dari Abu Basir, dari Imam Muhammad Baqir (as) yang berkata, “Maula atas perkara ini mempunyai sifat-sifat seperti yang dipunyai oleh empat Nabi; sifat yang dipunyai Musa, Isa, Yusuf, dan Muhammad (salam dan shalawat semoga dicurahkan bagi mereka semua).” Seseorang bertanya, “Sifat Musa yang mana yang dipunyai?” Beliau (as) menjawab, “Rasa takut dan kesabaran menunggu.” Aku bertanya, “Bagaiman dengan sifat dari Isa (as)?” Beliau (as) menjawab, “Apa yang dikatakan tentang dia (Imam Mahdi) adalah apa yang dikatakan tentang Isa (as).” Aku berkata, “Sifat Yusuf yang mana?” Beliau (as) menjawab, “Penjara dan menghilang.” Aku berkata, “Yang mana yang sifat Muhammad (SAWA)?” Beliau (as) berkata, “Apabila ia (Imam Mahdi) muncul, ia akan menyerupai kakeknya, Muhammad (SAWA) tetapi ia akan menggunakan pedangnya selama 8 bulan, dimana dalam masa itu akan ada keributan, sampai Allah merasa puas.” Aku berkata, “Bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa Allah telah puas?” Beliau (as) berkata, “(Ketika) Allah memberi rasa iba di dalam hatinya (hati Imam).”
L- La Mère des Cités.

Salam, La jeune fille, mère du Fils de l’homme[…]

بسم الله الرحمن الرحيم والحمد لله رب العالمين […]

Ç- Prière (Çalat).

Salam, Diverses manières de prier. Ç- 2. Tou[…]