#65009
SURAT WASIAT NABI MUHAMMAD (SAWA)

Apabila kita kembali pada apa yang terjadi sebelum wafatnya Nabi Muhammad (SAWA), dan khususnya pada apa yang terjadi di hari Kamis terakhir, juga yang disebut sebagai hari Kamis Bencana, kita menemukan kesepakatan bahwa Rasulullah (SAWA) hendak menuliskan surat wasiat dan beliau berkata, “Bawakan kepadaku sebuah pena dan secarik kertas sehingga aku dapat menuliskan bagimu sebuah pernyataan, yang dengannya engkau tidak akan pernah tersesat.” Dan semua yang berkumpul di ruangan itu bersitegang sehingga menimbulkan amarah Nabi (SAWA) dan Nabi (SAWA) pun mengusir mereka pergi.

Kejadian pada malam bencana tersebut telah diriwayatkan pada puluhan hadist, baik di dalam hadist-hadist Sunni maupun Syiah.

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Musa, dari Hisham, dari Muamar, dari Abdullah bin Muhammad, dari Abdulrazak, dari Muamar, dari Al-Zahri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas (semoga Allah memberkati mereka semua), dikatakan :
Ketika Nabi Allah (SAWA) terbaring pada ranjang kematiannya, ada beberapa orang di dalam rumah dan salah satunya adalah Umar bin Al-Khattab. Lalu Nabi (SAWA) berkata, “Kemarilah. Akan aku tulis sebuah wasiat bagi kalian yang dengannya kalian tidak akan pernah tersesat.” Umar berkata, “Nabi sungguh dalam kondisi sakit. Kita mempunyai Al Quran, dan itu cukup bagi kita.” Orang-orang lain yang hadir di situ mempunyai pendapat yang berbeda dan mereka mulai beradu mulut. Beberapa berkata, “Ayo kita mendekat padanya sehingga Nabi bisa menulis wasiat yang akan membuat kita tidak akan pernah tersesat,” sementara yang lainnya mempunyai pendapat yang sama dengan Umar. Ketika perbedaan pendapat itu meningkat menjadi pertengkaran dan tangisan di hadapan Nabi, Nabi pun berkata, “Pergi kalian!”
Ubaidullah mengatakan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Sungguhlah merugi ketika Nabi Allah dilarang untuk menulis wasiat bagi mereka dikarenakan keributan dan pertengkaran mereka.”
Sumber :
Al-Bukhari, Vol 7, Bab 70, Hadist no 573

Setiap muslim wajib untuk meninggalkan wasiat dan tentu saja Nabi (SAWA) tidak akan melewatkan aturan ini dan meninggalkan umatnya tanpa bimbingan. Sudah seharusnya ada wasiat seperti yang Allah sabdakan di dalam Quran, surah Al Maidah : 106
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang dari kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh 2 orang yang adil diantara kamu, atau 2 orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah) lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu. “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa.”

Wasiat ini telah diperlihatkan oleh Yamani (as), wasiat yang sudah tercatat di dalam banyak kitab sepanjang sejarah. Semua mazhab di dalam Islam mencatat bahwa hanya satu surat wasiat yang ditemukan dan wasiat ini adalah satu-satunya wasiat dari Nabi Muhammad (SAWA) yang tercatat di dalam kitab-kitab. Tanpa keraguan surat wasiat harus dibuat dan jika wasiat ini hanya satu-satunya, akankah wasiat ini bukan wasiat dari Nabi Muhammad (SAWA).

Nabi Muhammad (SAWA) berkata kepada Ali bin Abi Talib (as) di malam sebelum beliau wafat.
“Wahai Bapak dari Al Hassan, bawakan aku kertas dan alat tulis,” dan beliau mendiktekan wasiatnya sampai pada dimana beliau berkata, “Wahai Ali, akan ada 12 Imam dan setelah mereka akan ada 12 Mahdi. Engkau, wahai Ali, adalah yang pertama dari 12 Imam. Allah telah menamai engkau di surga sebagai Ali Al Murtadha. Pemimpin kaum beriman, Kebenaran yang utama, Farouq (hakim dan pembeda antara benar dan salah) yang bersinar, yang paling dipercaya, dan Al Mahdi (yang tercerahkan). Nama-nama tadi tidak akan bisa diberikan kepada orang lain selain dirimu. Wahai Ali, engkaulah penjaga atas keluargaku, kehidupan dan wafat mereka. Istri-istriku yang engkau jaga akan bertemu denganku esok, tetapi yang engkau tolak, aku akan terbebas darinya. Aku tak akan melihat mereka dan mereka tidak akan melihatku di Hari Kebangkitan. Dan engkau adalah penerus (khalifah) atas umatku sesudahku. Jika hari kematianmu telah tiba, serahkanlah (kepemimpinan) kepada anakku Hassan, yang paling berdaya guna. Kemudian ketika hari kematian telah tiba padanya, serahkan pada Al Hussein, sang syuhada, yang suci dan terbunuh. Ketika hari kematian telah tiba padanya, serahkan kepada anaknya, pemimpin para pelayan dan penyembah Allah, Ali. Apabila hari kematiannya tiba, berikan kepada anaknya, Muhammad Al Baqir. Ketika hari kematiannya tiba, teruskan oleh anaknya Jaafar Al Sadiq (yang jujur). Ketika hari kematiannya datang, berikan kepada anaknya, Musa Al Kadhim (yang sabar). Ketika hari kematiannya tiba, berikan kepada anaknya, Ali Al Redha. Ketika hari kematiannya datang, berikan kepada anaknya, Muhammad Al Taqi (yang bisa dipercaya). Ketika hari kematiannya tiba, berikan kepada anaknya Ali Al Naqi (sang penasehat). Ketika hari kematiannya datang, berikan kepada anaknya Al Hassan Al Askary. Dan ketika hari kematiannya tiba, berikan kepada anaknya, Muhammad sang pemegang mandat/pemelihara keluarga Muhammad. Salam bagi mereka semua.
Semua itu adalah 12 Imam.
Kemudian akan ada 12 Mahdi sesudah mereka. Dan ketika Allah menerima Muhammad bin Hassan Al Askary (as) kembali kepadaNya, serahkan kekhalifahan Allah kepada anaknya, yang pertama dari semua yang terdekat, dia mempunyai 3 nama, satu seperti aku dan ayahku :
Abdullah (pelayan Allah), Ahmad, dan nama yang ketiga adalah Al Mahdi (yang tercerahkan) dan ia adalah orang pertama beriman.”

Sumber referensi :
- Sheikh Al-Toosi, Al Ghayba, hlm 150
- Sheikh Hor Al-Amili, Ithbat Al Hodat, vol 1, hlm 549
- Sheikh Hor Al-Amili, Al-Iqath Min Al Haj’a, hlm 393-3
- Sheikh Hassan bin Soulayman Al Hilli, Mokhtasar Al Bassair, hlm 159
- Al Allama Al-Majlisii, Bihar Al Anwar, vol 53, hlm 147
- Al Allama Al-Majlisii, Bihar Al Anwar, vol 36, hlm 260
- Sheikh Abd Allah Al-Bahrani, Al Awalim, vol 3 hlm 236
- Al-Sayyed Hashim Al-Bahrani, Ghayat Al-Maram, vol 1, hlm 370
- Al-Sayyed Hashim Al-Bahrani, Al Insaf, hlm 222
- Al-Fayth Al-Kachani, Nawadir Al-Akhbar, hlm 294-9
- Sheikh Mirza Annouri, Annajm Al-Thaqib, vol 2, hlm 71
- Al-Sayyed Muhammad Muhammad Sadiq Al Sadir, Tarikh Ma Ba’d Al-Thohoor, hlm 641-11
- Sheikh Al Mayanji, Makatib Arrassoul, vol 2, hlm 96
- Sheikh Al-Korani, Mokhtasar Mo’jam Ahadith Al-Imam Al-Mahdi, hlm 301-313

Salam, Des bannières pour tous les peuples. […]

Q- Le Mahdi dans le Coran.

Salam, Le Qoraychi. Q-27. Nous avons vu que[…]

M- Deux Messies.

Salam, Qoraych. M-14. Mahdi est Korèsh (Qora[…]