#65765
Oleh: ahmadmahdi

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah Penguasa Alam. Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat bagi Muhammad dan Keluarga Muhammad, Aimmah dan Mahdyeen.
أَعـوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْـطانِ الرَّجيـم
Aku berlindung kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk
أعوذ بالله من أنا
Aku berlindung kepada Allah dari keakuanku
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِٱللَّهِ ٱلْعَليِّ ٱلْعَظِيمِ
Tiada daya dan kekuatan kecuali berasal dari Allah Yang Maha Besar
اللهم صلي على محمد و ال محمد الأئمة و المهديين و سلم تسليما كثيرة
Ya Ahmad Ya Abdullah Ya Mahdi, darimu Ya Ahlul Bayt adalah kebaikan dan di dalam dirimu Ya Ahlul Bayt adalah kebaikan dank e atasmu Ya Ahlul Bayt adalah kebaikan
لبيك ياحسين
Labayk Ya Hussain




Walaupun kasih sayang Allah ada di luar jangkauan pemahaman manusia, tetapi yang kita ketahui adalah bahwa Allah (SWT) mencintai hamba-hambaNya melebihi rasa cinta seorang ibu. Cinta seorang ibu di dunia ini adalah cinta yang tertinggi dan termurni dan merupakan ikatan yang paling indah. Contohnya, seorang ibu tidak tahan melihat anaknya kesakitan ataupun tidak dapat ia membiarkan anaknya kelaparan. Ibu adalah seseorang yang akan menanggung penderitaan demi melindungi anak-anaknya dan hanya seorang ibulah yang mengetahui seberapa besar Allah (SWT) telah menanamkan cinta di dalam hatinya untuk anak-anaknya. Cinta semacam ini setinggi gunung, sedalam lautan dan tidak ada seorang pun yang bisa menghitung kedalaman cinta seorang ibu. Cinta seorang ibu adalah cinta tanpa syarat dan begitulah juga cinta Allah kepada hamba-hambaNya, yaitu tanpa syarat. Cinta Allah (SWT) jauh melebihi cinta seorang ibu bahkan manusia tidak dapat membayangkan kedalaman cinta dari Tuhannya. Dan Allah akan senang melihat hamba-hambaNya berpaling kepadaNya untuk mendapatkan karunia dari kasih sayangNya. Terdapat banyak sekali ayat di dalam Al Quran yang menyatakan tentang kasih sayang Allah (SWT) dan hanya Allahlah yang paling mengetahui tentang ayat-ayat tersebut.

Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” {QS 39:53}

Kabarkanlah kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. {QS 15:49}

Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. {QS 5:74}

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim. {QS 13:6}


Bertobat adalah satu langkah menuju Allah (SWT), sebuah realisasi, pengakuan atas semua dosa, pertobatan adalah yang mendorong seorang hamba mendekati Tuhannya, Allah (SWT). Walaupun sedang berada di awal, tengah, ataupun akhir perjalanan, hamba Allah (SWT) tidak akan mengabaikan pertobatan. Bertobat secara tulus berarti berpaling kepada Allah (SWT) dan menjauhkan diri dari dosa yang dilakukan dengan atau tanpa disengaja untuk membangun penghalang antara dirinya dan shaytan (la).
“…Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka, dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung, dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” {QS 9:74}


Memandang rendah kasih saying Allah (SWT) karena kasih sayangNya di atas segalanya dan mengecilkan esensi ketuhanan Allah berarti jatuh ke dalam perangkap Iblis (la) karena Iblis yang jahat menginginkan manusia untuk melakukan dosa dan berpaling dari kasih sayang Allah (SWT).

[color=#FFBF00]Imam Ali (as) menggambarkan Allah Yang Maha Kuasa di dalam doa Iftitah yaitu, “Aku percaya bahwa Engkau Maha Pengasih dari segala yang mengasihi dalam memberi ampunan dan kasih sayang dan Engkau Yang Maha Memberi siksaan ketika memberi siksaan dan azab.” (Mafatih Al-Jinan, oleh Abbas al-Qumi, Doa Iftitah)

Imam Ali (as) menekankan di doa Kumayl bahwa tidak ada alasan untuk tidak bertobat dan berpaling kepada Allah dan bahwa Allah mempunyai otoritas penuh terhadap manusia dengan berkata, “Cukup sudah bagiMu dalih (dalam menjatuhkan hukuman) padaku atas semua kelakuanku itu, dan tidak ada alasan bagiku (menolak) hukuman yang akan Engkau jatuhkan padaku atas semua ulahku itu.” Mafatih Al-Jinan, Doa Kumayl


Abdul A’la, budak dari aalsam yang telah dibebaskan, bercerita bahwa ia telah mendengar Imam as-Sadiq (as) berkata:
“Pada hari Kebangkitan seorang wanita cantik, yang telah diperdayakan oleh kecantikannya, akan dibawa untuk diuji. Ia akan berkata, “Ya Tuhanku, engkau telah memberiku kecantikan sehingga aku berbuat ini dan ini.” Kemudian Perawan Suci Maria (as) didatangkan. Dikatakan (kepada perempuan itu), “Apakah engkau lebih cantik darinya (Maria)? Kami menciptakan ia sebagai perempuan cantik tapi ia tidak tertipu oleh kecantikannya.” Lalu seorang pria tampan, yang telah terperdaya oleh ketampanannya, akan dibawa. Pria itu berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah memberiku ketampanan sehingga aku berbuat ini dan ini bersama wanita.” Nabi Yusuf (as) lalu dibawa menghadap. Dikatakanlah (kepada pria itu), “Apakah engkau lebih tampan darinya (Nabi Yusuf as.)? Kami menciptakannya begitu tampan tetapi ia tidak tertipu oleh ketampanannya. Kemudian seorang laki-laki malang yang telah terperdaya oleh (telah kehilangan keimanannya karena) mala petaka yang menimpanya, dibawa. Laki-laki itu berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengujiku dengan banyak kesukaran sehingga aku terperdaya.” Kemudian Nabi Ayub (as) didatangkan. Dikatakanlah (kepada laki-laki itu), “Apakah kesukaran yang menimpamu lebih parah darinya (nabi Ayyub as.)? Ia (Nabi Ayyub as.) telah diuji tetapi ia tidak terperdaya (tidak kehilangan keimanannya).” {Rawdhatul Kafi, hlm 228}


Imam as-Sadiq (as), di dalam artikel luar biasa yang dikenal sebagai “Surat Pertobatan”, membicarakan tentang dosa-dosa yang harus dimintakan ampunan Allah secepatnya sebagai kewajiban hukum dan moral; dosa-dosa yang apabila tidak diperbaiki dengan sungguh-sungguh bertobat, dosa-dosa itu tidak akan pernah dihilangkan atau dihapuskan dari catatan Allah dan dosa-dosa itu akan menyusahkan kehidupan di dunia ini dan berdasarkan dosa tersebut, ia akan mendapatkan siksaan Allah di Hari Kebangkitan.
Imam as-Sadiq (as) berkata, “Ya Allah, aku memohon agar Engkau mengampuni dosa-dosaku terhadapMu dan yang kemudian aku ulangi lagi. Aku memohon ampunanMu karena aku telah menelantarkan kewajibanku, menelantarkan salatku, zakat, puasa, jihad, haji, umrah, wudhu dan ghusl, salat malam, menelantarkan kewajibanku untuk memujiMu, untuk membayar atas pelanggaran sumpah-sumpahku, untuk taat kepadaMu, untuk melakukan semua kewajibanku. Aku berdoa agar Engkau mengampuni atas semua dosa besar, dosa kecil, ketidaktaatan, perbuatan-perbuatan jahat, dan syahwat yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja, secara terbuka atau diam-diam. Aku bertobat untuk itu semua dan karena melukai fisik orang lain, tidak mematuhi orang tua, memutuskan tali persaudaraan, lari dari jihad, mempermainkan wanita terhormat, memakan hak anak yatim, bersumpah palsu, menyembunyikan saksi yang benar, membeli perjanjian dengan harga murah, riba, harta-harta yang didapat dengan cara yang salah, sihir, tenung, bersikap pesimis, menduakan Allah, kemunafikan, pencurian, minum minuman keras, memberikan ukuran dan berat yang lebih kecil (dari seharusnya), berselisih, melanggar perjanjian, membuat kebohongan, berkhianat, menghancurkan perlindungan, sumpah (palsu), menjelek-jelekkan orang lain, menyebarkan gosip, memfitnah, mencemarkan nama baik, mengumpat, mencelakakan tetangga, memberi julukan yang menghina, memasuki rumah orang lain tanpa permisi, keangkuhan, kesombongan, kebengalan, bersuka ria, ketidakadilan dalam menghakimi, menindas orang lain ketika marah, fanatisme, mendukung orang yang tidak adil, memberi pertolongan kepada orang lain untuk berbuat dosa dan pelanggaran, (kemiskinan keluarga, sedikitnya harta benda dan anak-anak), curiga, mengikuti syahwat, memerintahkan kemaksiatan, melarang kebaikan, korupsi, mengingkari kebenaran, menyanjung penguasa, berbuat curang, bersikap kikir, membicarakan tentang sesuatu yang aku tidak ketahui, makan daging dari binatang yang sudah mati, minum darah, makan babi ataupun daging apapun yang Engkau larang, iri dengki, penyerangan, mengundang kepada kebejatan, menginginkan apa yang Engkau kabulkan kepada orang lain, menipu diri sendiri, membuat orang lain selalu teringat pada apa yang sudah aku berikan, berniat berbuat dosa, mencelakakan anak yatim, menyembunyikan pencuri, melanggar perjanjian, berbuat curang pada harta, tubuh dan kehormatan orang lain, atas apa yang telah dilihat oleh mataku, apa yang telah didengar oleh telingaku, apa yang telah diucapkan oleh lidahku, apa yang telah digapai oleh lenganku, kemana kakiku melangkah, apa yang telah disentuh oleh kulitku, apa yang telah aku katakan kepada diriku sendiri yang mana merupakan ketidakpatuhan kepadaMu dan pada setiap sumpah palsu yang aku katakan.” {Biharul Anwar, vol. 97, hlm. 328}
Di dalam riwayat ini, Imam as-Sadiq (as) telah menyebutkan dosa-dosa yang berbeda yang membuat seseorang seharusnya bertobat dan berpaling kepada Allah dengan tulus.


KETULUSAN DALAM BERTOBAT

Bukanlah bertobat namanya ketika seseorang berkata “astaghfirullah – Aku memohon kepada Allah untuk mengampuniku” dengan rasa malu yang sedikit di dalam dirinya atau ia menitikkan air mata dengan diam-diam atau di depan orang banyak karena ada banyak orang yang bertobat dengan cara ini tetapi sesaat kemudian mereka kembali melakukan dosa yang sama dan ketidaktaatan yang sebelumnya mereka lakukan. Kembali melakukan dosa yang sama adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa ia tidak betul-betul bertobat dan cahaya untuk kembali kepada Allah tidaklah menembus jiwanya. Pertobatan yang sebenarnya dan menjauhi dari melakukan dosa yang sama lagi dan lagi menunjukkan ketulusan dan Allah (SWT) adalah yang paling mengetahui hati setiap hambaNya.

Pada suatu hari Imam Ali (as) mendengar seseorang berkata, “Aku memohon ampun kepadaMu, ya Allah.” Imam (as) berkata kepadanya, “Celakalah kamu! Apakah kamu tahu apakah artinya memohon ampunan? Memohon ampunan adalah posisi dari para “Illiyeen”. Illiyeen adalah posisi yang tinggi yang ditempati oleh para Nabi, orang suci, syuhada, dan orang-orang yang mempunyai keimanan yang tinggi yang dekat dengan Allah (di surga).
Memohon ampunan mempunyai enam arti; yang pertama adalah merasa menyesal atas apa yang telah dilakukan sebelumnya; yang kedua adalah memutuskan untuk tidak melakukan dosa itu lagi untuk selamanya; yang ketiga adalah memberikan kepada orang-orang hak-haknya; yang keempat adalah melakukan semua kewajiban yang sebelumnya tidak dilakukan; yang kelima adalah menghilangkan secara perlahan daging yang ada di dalam tubuh yang telah tumbuh dikarenakan memakan barang yang haram dengan cara terus menangis dan menyesali perbuatan itu sampai kulit tubuh menyatu dengan tulang dan daging baru kembali tumbuh; dan yang keenam adalah dengan membuat tubuh merasakan sakitnya ketaatan karena sudah merasakan manisnya ketidaktaatan dan sesudahnya maka mungkin untuk mengatakan “astaghfirullah – aku memohon ampun kepadaMu, ya Allah.” Nahjol Balagha, Perkataan no. 309


Orang yang bertobat harus menyadari arti dari bertobat dan sungguh-sungguh memastikan untuk berhenti berbuat dosa dan tidak melakukannya lagi untuk selamanya. Ia tidak seharusnya memikirkan pertobatan ketika masih melakukan dosa. Menunda-nunda dan berharap untuk bertobat pada suatu hari nanti tidak diragukan lagi adalah rencana Shaytan.
Diriwayatkan dari Imam Al Ridha (as) yang mengatakan, “Ia yang memohon ampun dengan lidahnya saja dan bukan dengan hatinya sama saja seperti mengejek dirinya sendiri.”

Kenyataannya, sungguh suatu perbuatan bodoh dan harus disesalkan ketika manusia sengaja mendekati penyakit dan ia berharap akan menemukan kesembuhan! Seberapa banyak kerugian yang manusia derita karena harapan palsu untuk bertobat dan berapa banyak ia berbuat kejahatan dan dosa sementara ia berbicara kepada dirinya sendiri bahwa pintu pertobatan selalu terbuka dan bahwa ia dapat bertobat dan kemudian ia sungguh-sungguh bertobat.. Jika manusia, ketika berniat untuk bertobat, memutuskan hal itu secara serius dan syarat-syarat pertobatan betul-betul akan dijalankannya, maka hal ini akan menyucikan dan memperbaiki jiwanya dan hatinya dan kemudian dosa-dosanya akan dihilangkan dari bagian-bagian dalam dan luar tubuhnya. Pertobatan tidak seharusnya menjadi suatu kebiasaan karena dosa sesungguhnya adalah kegelapan sementara pertobatan adalah cahaya dan terlalu sering keluar masuk dari kegelapan ke dalam cahaya akan membingungkan jiwa. Oleh karenanya, apabila kita bertobat atas suatu dosa tetapi kemudian kita melakukannya lagi, kita masih ada di dalam lingkaran dosa dan pertobatan kita hanyalah pernyataan sementara saja. Jiwa manusia mirip seperti neraka. Tidak pernah akan penuh. Selalu ingin terus terisi dengan dosa dan ketidaktaatan. Selalu rakus akan sesuatu yang diharamkan. Hal-hal inilah yang membuat manusia terus-menerus berbuat dosa dan jauh dari Allah Yang Maha Kuasa. Maka pintu neraka ini harus ditutup dengan tobat dan binatang buas yang bandel ini harus diikat dengan rantai kesungguhan untuk berpaling kepada Allah. Tobat adalah kebalikan dari kondisi sekarang, pergerakan keimanan, ketakwaan secara sadar dan perubahan internal dari dalam hati dan jiwa. Hubungan manusia dengan dosa dan motifnya menjadi melemah dan ia terikat dengan kuat pada Kebenaran dan kesucian dan cahaya. Awal mula pertobatan adalah hidup yang baru; kehidupan surgawi yang suci. Pada kehidupan ini manusia mengabdikan hatinya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan jiwanya hanya untuk berbuat kebajikan. Ia menyucikan luar dan dalam dari efek yang ditimbulkan oleh dosa. Esensi dari pertobatan adalah punahnya api keinginan (materi). Pertobatan membawa manusia kepada jalan Kebenaran, kepatuhan dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Pertobatan adalah akhir dari kontrol setan atas diri manusia. Pertobatan menyiapkan dasar psikologis yang kuat yang membuat kebenaran berkuasa atas diri manusia dan mencegahnya jatuh terpeleset akibat tekanan keinginan dan kenikmatan materi yang sementara.

Pertobatan dibedakan menurut dosa-dosanya dan setiap dosa memerlukan pertobatan khusus. Jika tidak bertobat maka seseorang akan tercemar dari akibat dosa dan jiwanya akan tetap gelap sampai hari Kebangkitan dan ia akan menderita siksa yang berat atas dosanya itu.
Dosa dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:

*Dosa-dosa yang dilakukan manusia karena melalaikan kewajibannya seperti salat, puasa, khums, jihad dan lain-lain yang sejenisnya.

*Dosa-dosa yang dilakukan ketika seseorang tidak mematuhi perintah Allah dengan melakukan apa yang dilarang seperti minum anggur, melihat perempuan yang bukan mahramnya dengan cara yang dilarang, berzina, berjudi, sodomi, masturbasi, mendengar musik yang dilarang dan hal-hal sejenisnya yang tidak ada hubungannya dengan hak-hak orang lain.

*Dosa-dosa yang, selain menuju kepada ketidakpatuhan kepada Allah, melanggar hak-hak orang lain seperti pembunuhan, pencurian, riba, kemarahan, memeras harta anak yatim, penyuapan, perbuatan jahat terhadap tubuh seseorang ataupu harta bendanya dll.


Bertobat untuk dosa yang ada di dalam kelompok pertama dicapai dengan meninggalkan dosa-dosa tersebut yang artinya bahwa ia harus melakukan kewajiban yang sebelumnya tidak dilakukannya itu seperti salat, puasa, membayar zakat pada tahun-tahun yang telah lampau yang belum ia bayarkan. Bertobat untuk dosa yang kedua dicapai dengan memohon ampunan kepada Allah, menyesal, dan memutuskan untuk meninggalkan dosa-dosa ini, yang menyebabkan kondisi seseorang berubah sama sekali dan juga menyebabkan anggota-anggota tubuhnya menjauhkan diri dari melakukan perbuatan buruk itu untuk selamanya. Bertobat untuk dosa yang ketiga dicapai dengan memberikan hak-hak orang lain kembali kepada mereka; seorang pembunuh sudah sepantasnya membiarkan penjaga/wali orang yang dibunuhnya menentukan apakah ia akan dihukum (hukuman badan) atau disuruh membayar sejumlah uang darah atau dimaafkan. Seorang lintah darat harus mengembalikan semua uang yang ia ambil dari perbuatan ribanya. Seorang pemeras harus memberikan semua hasil pemerasan kepada pemiliknya. Harta anak yatim harus dikembalikan kepada mereka. Uang hasil penyuapan harus dikembalikan kepada pemiliknya. Seorang yang menyerang fisik orang lain harus membayar uang darah dan membayar kompensasi kerugian dan kerusakan pada harta milik orang lain dan seterusnya.

Orang yang bertobat harus berdoa kepada Allah (SWT) agar Allah memberikan kesuksesan dalam usahanya untuk bertobat, untuk menjauhkan diri dari dosa dan menyatakan perang terhadap Setan dan Iblis dan barulah ia dapat bebas dari kontrol Setan yang terkutuk sedikit demi sedikit dan pada akhirnya ia dapat mengusir Setan keluar dari hidupnya dan terbebas dari kekuasaan Setan atas jiwa dan tubuhnya.. Dengan melakukan hal ini manusia menyiapkan dasar yang baik bagi dirinya untuk bertobat dan berpaling kepada Allah dari dasar hatinya dan maka perjanjian (dirinya dengan Tuhannya) setelahnya tidak akan rusak dikarenakan oleh kegelapan dosa dan ketidakpatuhannya kepada Tuhan.


Salah seorang Imam maksum (as) berkata, “Allah Yang Maha Kuasa telah memberikan tiga manfaat bagi orang yang bertobat. Apabila Allah telah memberikan satu dari ketiga manfaat itu kepada semua penghuni bumi dan surga, maka mereka akan selamat.”
Allah telah berfirman: “Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang taubat, dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” {QS 2:222}
Ia, yang dicintai oleh Allah, tidak akan mendapat siksa.
Allah juga telah berfirman:
(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya, bertasbih memuji Rabb-nya, dan mereka beriman kepada-Nya, serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, (seraya mengucapkan): 'Ya Rabb-kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang, yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. Ya Rabb-kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn, yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu (hari kiamat), maka sesungguhnya, telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.” {QS 40:7-9}

Allah juga telah berfi orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat-gandakan azab untuknya pada hari kiamat, dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka (untuk) mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” {QS 25: 68-70}


RIWAYAT DARI AHL AL BAYT (AS) MENGENAI PERTOBATAN

Imam Abu Ja’far Muhammad al-Baqir (as) berkata, “ Adam telah berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah membuat Syaitan berkuasa atasku dan membuatnya seperti aliran darah di dalam tubuhku!” Allah berkata, ”Wahai Adam, Aku telah memberikan rahmat kepadamu yaitu bahwa barangsiapa dari keturunanmu berniat melakukan perbuatan jahat maka tindakan itu tidak akan dihitung (sebagai perbuatan jahat), tetapi apabila ia melakukannya maka akan dihitung sebagai satu tindakan kejahatan dan barangsiapa yang berniat untuk melakukan perbuatan baik tanpa melakukannya maka akan dihitung sebagai satu perbuatan baik dan apabila ia melakukannya maka akan dihitung sebagai sepuluh perbuatan baik.” Adam berkata, “Ya Tuhanku, rahamatilah aku lebih banyak lagi!” Allah berkata, “Aku telah memberi rahmat kepadamu yaitu bahwa barangsiapa dari keturunanmu berbuat kejahatan dan kemudian memohon ampun, perbuatannya akan diampuni.” Adam berkata, “Ya Tuhanku, rahmati aku lebih banyak lagi!” Allah berkata, “Aku telah memberi rahmat kepada keturunanmu pertobatan sampai pada saat kematiannya.” Adam berkata, “Ya Tuhanku, aku telah puas dengan rahmatmu.” (Al-Kafi, vol 2, hlm.440, Biharul Anwar, vol.6, hlm. 18)

Imam as-Sadiq (as) menceritakan bahwa Nabi (SAWAS) telah berkata, “Barangsiapa yang bertobat setahun sebelum kematiannya, Allah menerima tobatnya.” Kemudian Nabi berkata, “Setahun terlalu lama. Barangsiapa yang bertobat sebulan sebelum kematiannya maka Allah menerima tobatnya.” Kemudian Nabi berkata, “Satu bulan terlalu lama. Barangsiapa yang bertobat seminggu sebelum kematiannya, Allah menerima tobatnya.” Lalu Nabi berkata lagi, “Seminggu terlalu lama. Barangsiapa yang bertobat sehari sebelum kematiannya, Allah menerima tobatnya.” Kemudian Nabi berkata, “Satu hari terlalu lama. Barangsiapa yang bertobat (sesaat) sebelum ia melihat malaikat kematian, Allah menerima tobatnya.” (Al-Kafi, vol.2, hlm.440)

Nabi (sawas) berkata, “Allah menerima pertobatan dari hambaNya bahkan sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Berpalinglah kepada Tuhanmu sebelum engkau mati dan bersegeralah untuk melakukan perbuatan yang baik sebelum engkau menjadi sibuk (dengan urusan lain) dan pertahankan apa yang ada diantara kamu dan Tuhanmu dengan sering menyebut namaNya.” (Biharul Anwar, vol. 6, hlm. 19)

Diceritakan bahwa Imam Ali (as) berkata, “Tidak ada perantara yang lebih membawa keberhasilan daripada pertobatan.” (Ibid)

Dan Nabi (sawas) berkata, “pertobatan membatalkan semua yang (dilakukan) sebelumnya.” (Mizan al-Hikma, vol.1, hlm. 338)

Imam Ali (as) berkata, “Pertobatan mendatangkan kasih saying.” (Ibid)
Imam Ali (as) juga berkata, “Berpalinglah kepada Allah dan masuklah ke dalam kasih sayangNya karena Allah mengasihi mereka yang betul-betul berpaling (kepadaNya) dan Ia mencintai mereka yang menyucikan dirinya. Orang-orang mukmin sungguh-sungguh berpaling kepada Allah.” (Biharul Anwar, vol. 6, hlm. 21)

Imam Ridha’ (as) telah menceritakan dari datuk-datuknya bahwa Rasulullah (sawas) telah berkata, “Seorang mukmin dekat dengan Allah seperti Allah kepada malaikatNya yang terdekat. Dekatnya seorang mukmin kepada Allah bahkan lebih hebat daripada ini dan tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin dan mukminat yang bertobat.” (Uyoon Akbar ar-Redha, hlm. 198)
Imam Ridha’ (as) juga telah menceritakan dari ayahnya bahwa Nabi (sawas) telah berkata, “Seorang yang bertobat dari dosanya adalah seperti seseorang yang tidak pernah melakukan dosa itu.” (Biharul Anwar, vol.6, hlm. 21)


Diriwayatkam bahwa Imam as-Sadiq (as) telah berkata, “Pertobatan yang tulus adalah bahwa seseorang bertobat atas dosanya dan memutuskan untuk tidak akan melakukannya lagi.” (Biharul Anwar, vol. 6, hlm. 22)

Nabi (sawas) telah berkata, “ Allah lebih menyukai hambaNya yang bertobat daripada seseorang yang bersih ketika memperanak seorang anak, daripada seseorang yang tersesat ketika menemukan tempat tujuannya, dan daripada seorang yang haus ketika mencapai sumber mata air.” (Mizan al-Hikma, vol. 1, hlm 338)
Nabi (sawas) juga berkata, “Seorang yang bertobat, jika akibat pertobatannya tidak nampak pada dirinya, bukanlah seorang yang bertobat. Ia seharusnya memuaskan penggugatnya, mendirikan salat yang ia abaikan, rendah hati terhadap orang lain, menjauhkan dirinya dari syahwatnya dan menguruskan lehernya dengan berpuasa di siang hari. “ (Jami’ul Akhbar, hlm. 226)


Amirul Mukminin (Imam Ali) as. telah berkata, “Bertobat adalah menyesali di dalam hati, meminta (kepada Allah) ampunan dengan lidahnya, bagian-bagian tubuhnya tidak akan melakukan (dosa) dan berniat untuk tidak akan kembali melakukannya (dosa) lagi.” (Biharul Anwar, vol. 78, hlm. 81)
Imam Ali (as) juga berkata, “Barangsiapa yang berpaling kepada Allah, Allah akan berpaling kepadanya dan anggota-anggota tubuhnya akan diperintahkan untuk menutupi dosa-dosanya, dataran untuk menyembunyikan dosa-dosanya, dan para penjaga (malaikat) akan dibuat lupa pada dosanya yang telah mereka tuliskan.” (Thawabul A’mal, vol. 1, hlm. 214)


Imam as-Sadiq (as) telah berkata, “Allah Yang Maha Kuasa telah mengungkapkan kepada NabiNya Daud (David), “Jika hamba setiaKu berbuat dosa dan berhenti dan menyesali dosa itu dan menjadi malu kepadaKu ketika menyebut namaKu, Aku akan mengampuniNya dan membuat para penjaga (malaikat) melupakan (apa yang mereka tulis akan dosanya) dan Aku mengubah kejahatan menjadi perbuatan yang baik dan Aku adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Ibid., hlm. 125)

Dalam sebuah riwayat yang penting Nabi Muhammad (sawas) telah berkata, “Apakah kamu tahu siapakah orang yang bertobat itu?” Sahabat-sahabatnya berkata, “Demi Allah, kami tidak tahu.” Nabi berkata, “Jika seseorang bertobat tanpa memuaskan penggugatnya, ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa meningkatkan ibadahnya, ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa mengganti pakaiannya (tingkah lakunya) ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa mengganti sahabat-sahabatnya (lingkungan pergaulannya) maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa mengubah pertemuannya maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa mengganti tempat tidur dan bantalnya maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa mengubah moral dan niatnya maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa membuka hatinya dan bermurah hati maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa menekan keinginannya dan mengendalikan lidahnya maka ia tidaklah bertobat. Barangsiapa yang bertobat tanpa menganugerahkan kekuatan tubuhnya dengan lebih jauh lagi maka ia tidaklah bertobat. Apabila ia melakukan semua itu maka barulah ia disebut bertobat.” (Biharul Anwar, vol. 6, hlm. 35)


KENIKMATAN DALAM PERTOBATAN KEPADA KASIH SAYANG ALLAH (SWT)

Bertobat mempunyai beberapa manfaat penting di dalam kehidupan duniawi dan di kehidupan akhirat sebagaimana yang telah disebutkan di dalam riwayat-riwayat penting dari Ahlul Bayt (as).
Di dalam Tafseer Majma’ul Bayan, sebuah riwayat yang menarik dan penting telah disebutkan bahwa pada suatu hari seorang laki-laki telah datang kepada Imam al-Hasan (as) dan mengeluhkan kepadanya tentang tanahnya yang tandus. Imam al-Hasan (as) berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah supaya mengampunimu!” Seorang yang lain datang kepada mengeluhkan tentang kemiskinannya. Imam al-Hasan (as) mengatakan kepadanya, “Mintalah Allah untuk mengampunimu!” Orang yang ketiga datang kepadanya dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar aku diberi anak laki-laki!” Imam al-Hasan berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar mengampunimu!” Orang-orang disitu berkata kepada Imam al-Hasan (as), “Beberapa orang datang kepadamu mengeluhkan dan menanyakan berbagai hal yang berbeda tetapi engkau meminta mereka semua untuk meminta ampunan kepada Allah.” Imam (as) berkata, “Aku tidak mengatakan itu dari kata-kataku sendiri tetapi aku mengikuti firman Allah ketika Ia menceritakan tentang kisah Nabi Nuh (as) dimana Nabi Nuh berkata kepada umatnya, “'Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” {QS 71: 10-12}

Nikmat Allah (SWT) dari melakukan pertobatan adalah dengan tidak melakukan dosa dan ampunan Ilahi, kasih saying Ilahi, dijauhkan dari siksa neraka, dimasukkan ke dalam surga, terjaganya jiwa, kesucian hati dan tubuh, dijauhkan dari skandal, turunnya hujan, berlimpahnya kekayaan dan banyak anak, tumbuhnya tanaman di kebun, sungai yang mengalir, dan hilangnya tanah yang tandus dan kemiskinan.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para nabi) itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” {QS 12:111}
“Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” {QS 71:10-12}
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” {QS 66:8}
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri, beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka, berkah dari langit dan bumi.” {QS 7:96}

Salam, Des bannières pour tous les peuples. […]

Q- Le Mahdi dans le Coran.

Salam, Le Qoraychi. Q-27. Nous avons vu que[…]

M- Deux Messies.

Salam, Qoraych. M-14. Mahdi est Korèsh (Qora[…]