User avatar
By zeynabansari
#65220
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Ya Allah, kirimkanlah salam dan shalawat bagi Muhammad dan Keluarga Muhammad, Aimmah, dan Mahdiyyin.
Kesuksesan berasal dari Allah dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui
Allahumma Salle Ala Muhammad wa Aale Muhammad al Aemmah wal Mahdyeen wa Saleem Tasleeman Katheera
Ya Ahmad, Ya Abdullah, Ya Mahdi
Darimu, Ya Ahlul Bayt, adalah kebaikan
dan di dalam dirimu adalah kebaikan
dan ke atasmu adalah kebaikan
Labbayk ya Hussein

Hamba Yang Shaleh, yaitu Imam Al Hussein (as), memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang luar biasa besar. Hamba Yang Shaleh disebutkan di dalam Al Quran surah Al Kahfi. Di dalam surat ini diceritakan Nabi Musa (as) dan Hamba Yang Shaleh, yaitu Al Hussein, berada di dalam perjalanan dan sampailah mereka (as) di suatu tempat dimana dua sungai bertemu.


PERJALANAN NABI MUSA (AS) DAN HAMBA YANG SHALEH (AS)

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.
Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”
Muridnya menjawab, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”
Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepadanya: “Bolehkan aku mengikuti supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.
Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
Musa berkata, “InshAllah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”
Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu hamba yang shaleh itu melubanginya. Musa berkata, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”
Hamba yang shaleh berkata: “Bukankah aku telah berkata, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”
Musa berkata, “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka hamba yang shaleh membunuhnya. Musa berkata, “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.”
Hamba yang shaleh berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”
Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.”
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta makanan kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau memberi makanan kepada mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka hamba yang shaleh menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”
Hamba yang shaleh berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang kondisinya baik.
Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”
(Surah Al Kahfi : 60 -82)

Aba Sadiq (as) : Dan kesepakatan ini melibatkan dua syarat yaitu syarat pertama adalah bahwa Musa (as) harus bersabar dan syarat kedua adalah bahwa ia harus bungkam. Kesabaran dan ketaatan adalah dua syarat bagi kesepakatan ini.

Walaupun sudah diingatkan berulang kali oleh Hamba Yang Shaleh dan janji dari Nabi Musa (as) bahwa ia akan tetap bersabar tanpa bertanya, Nabi Musa (as) kemudian lupa lalu ingat dan taat. Hamba Yang Shaleh menguasai pengetahuan dan kebijaksanaan yang sangat, sangat tinggi yang bahkan membuat Nabi Musa (as) merasakan kesukaran untuk tetap ingat agar tetap taat dan bersabar walaupun sudah diingatkan berulang kali.

Dan seperti sekarang, Imam Ahmed Al Hassan (as), Hamba Yang Shaleh, mempunyai pengetahuan dan juga kebijaksanaan yang sangat, sangat, sangat tinggi yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh pikiran kita. Kisah perjalanan Nabi Musa (as) dan Hamba Yang Shaleh (as) mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan taat bahkan untuk sesuatu yang kelihatannya tidak adil atau tidak dapat dijelaskan. Bapak kita, Ahmed Al Hassan (as) adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan yang tinggi dan mengarungi perjalanan bersama Al Hujjah akan penuh dengan kesulitan dan jangan berharap akan perjalanan yang mudah.

Imam Ahmed Al Hassan (as) berkata : Ya, berjalan bersama maksumin tidaklah mudah tetapi bukannya tidak mungkin (dilakukan), tetapi barangsiapa yang (memilih untuk) berjalan pada jalan itu (maka ia) harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.
Bagaimana caranya seseorang berjalan bersama Imam Ahmed A Hassan (as), yang adalah Al Hussein (as), di jalan yang sulit itu? Jawabannya adalah bahwa ia harus bekerja, berlatih, dan berefleksi pada bagaimana bersikap taat dan sabar di setiap waktu. Lari marathon di sebelah atlet yang berpengalaman dengan kecepatan yang sama atau paling tidak menyamai kecepatannya kelihatannya tidaklah mungkin, tetapi dengan dedikasi dan latihan, yang tidak mungkin bisa berubah menjadi mungkin. Sama keadaanya pada kita sekarang yang harus terus bekerja, bekerja, dan bekerja memperbaiki diri dalam hal kesabaran dan ketaatan kita kepada Imam (as). Imam Ahmed Al Hassan (as) telah meminta kita untuk hadir di Paltalk Room. Tugas kita sekarang untuk bertanya kepada diri sendiri : seberapakah kita menaati perintah Imam (as) dan apabila kita tidak taat, tanyalah kepada diri sendiri mengapa? Ketaatan dan kesabaran untuk melewati semua ujianlah yang akan memperkuat kita. Jalan yang kita tempuh adalah jalan yang panjang dan sulit, dan kalau kita terus menghitung-hitung berapa banyak langkah lagi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan, perjalanan ini akan terlihat seperti ketidakmungkinan. Sebaliknya kita harus fokus pada akhir perjalanan. Ambillah Ahlul Bayt (as) sebagai contoh dalam hal ketaatan dan kesabaran dan terapkan di dalam langkah-langkah kita dan inshAllah apa yang kita lakukan tidak akan terasa sebagai suatu perjalanan (panjang) sampai pada hari ketika kita sampai pada tujuan akhir inshAllah.

Pikiran manusia penuh dengan kelemahan dan memiliki batasan dalam memahami sesuatu, contohnya adalah perjalanan Nabi Musa (as) dan Hamba Yang Shaleh (as). Contoh tersebut adalah pengingat untuk tidak pernah mempunyai keragu-raguan atau keterkejutan atas peristiwa-peristiwa yang akan terjadi yang secara sementara dapat membingungkan pikiran manusia yang sangat terbatas itu. Semua kebaikan berasal dari Allah dan semua kebathilan berasal dari keakuan (ego). Hanya Allahlah yang telah memberikan ilmu dan kebijaksanaan yang luas kepada Imam Ahmed Al Hassan (as) dan Allah adalah Yang Maha Mengetahui dan Maha Menentukan segala sesuatu dan Iblis (la)lah yang mempermainkan pikiran manusia untuk meragukan tentang sesuatu yang sedikit pun kita tidak mempunyai pengetahuan, sementara kita selalu melupakan bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa untuk meragukan Al Hujjah (as). Tujuan kita adalah menaati Allah (SWT) dan HambaNya Yang Shaleh, Ahmed Al Hassan (as) dan ketaatan ini hanya bisa dicapai setelah kita menerapkan kesabaran di dalam segala hal.

Dari Aba Sadiq (as): “Imam Ahmed Al Hassan (as), yang adalah Al Hussein (as) di dalam raja’ahnya, telah meletakkan dua syarat terhadap ansarnya dan ia berkata kepada mereka, “Darimu aku menginginkan kesabaran, dan kesabaran, kemudian kesabaran dan ketaatan.”

Penekanan yang besar pada kesabaran menunjukkan pentingnya faktor kesabaran di dalam perjalanan ini karena kita sekarang berada di dalam posisi yang sama seperti Nabi Musa (as) yaitu adalah bahwa kita harus tetap bersabar di dalam perjalanan dengan Bapak kita, Ahmed Al Hassan (as), dan taat pada apa yang ia (as) katakan, lakukan, atau pada apa yang ia minta dari ansarnya.


PELAJARAN PENTING DARI PERJALANAN NABI MUSA (AS) BERSAMA HAMBA YANG SHALEH (AS)

Dari perjalanan Nabi Musa (as) bersama Hamba Yang Shaleh (as)kita dapat menarik kesimpulan bahwa semua hal mempunyai aspek realitas dalam (ruh) dan luar (fisik). Apabila sesuatu terlihat baik dan tidak bercacat dari luarnya tetapi di dalamnya busuk dan jahat, maka tidaklah mungkin kita hanya mengandalkan hukum dan aturan yang mengatur aspek realitas fisik saja. Contoh mengenai hal ini adalah mengenai raja’ah. Seperti yang kita ketahui dari Imam Ahmed Al Hassan(as) bahwa ruh dari orang-orang munafik musuh-musuh Allah juga dikembalikan lagi ke dunia (mengalami raja’ah). Ruh mereka sangatlah jahat, gelap, dan menjijikan dan mereka terus-menerus melawan hukum-hukum Allah (SWT). Walaupun demikian, penampilan fisik dari ruh-ruh ini bisa berupa apapun, yaitu seperti laki-laki tua, anak kecil, atau seorang perempuan yang cantik. Ilusi-ilusi tentang penampilan fisik inilah yang akan memperdaya dan kita harus melatih pikiran kita untuk tidak tertipu oleh mereka karena mau seperti apapun penampilan fisik mereka, di dalamnya (ruh) mereka adalah musuh-musuh Allah yang menjijikan. Dan ketika Imam Ahmed Al Hassan (as) mengangkat pedangnya melawan mereka, hati kitasudah harus mantap untuk melakukan semua yang Imam (as) minta karena pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilikinya jauh lebih besar dari pengetahuan yang kita miliki.

Pelajaran lain yang kita dapat dari kisah perjalanan Nabi Musa (as) dan Hamba Yang Shaleh (as) adalah untuk tidak mencintai apapun lebih daripada cinta kepada Allah (SWT) dan apa yang kita lakukan harus sesuai dengan perintah Allah (SWT) dan apa yang dilakukan oleh Imam (as) adalah perintah Allah (SWT). Di dalam tiga kejadian, seperti ysng disebutkan di dalam Al Quran, Hamba Yang Shaleh (as) hanya mengerjakan apa yang Allah perintahkan baginya (as) karena hanya Allahlah pencipta alam semesta yang mempunyai pengetahuan dan kebijaksanaan atas semua yang ada di surga dan di bumi dan hanya Dialah yang memberi pengetahuan dan kebijaksanaan kepada Ahlul Bayt (as). Imam Ahmed Al Hassan (as) mempunyai pengetahuan yang tinggi dan apabila kita sungguh-sungguh taat kepada Allah (SWT) maka kita pun akan taat kepada HambaNya Yang Shaleh, Ahmed Al Hassan (as). Imam Ahmed Al Hasaan tidak akan pernah melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah (SWT). Di dalam peristiwa yang disebutkan di dalam Al Quran, Hamba Yang Shaleh tidak melakukan sesuatu tanpa perintah dari Allah (SWT), ia hanya melaksanakan apa yang Allah (SWT) kehendaki. Dengan kata lain, semua tindakannya hanya berdasarkan kehendak Allah, Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, bahkan pada peristiwa dibunuhnya seorang anak laki-laki yang mereka temui di perjalanan.

Imam Ja’far b. Muhammad As-Sadiq (as) berkata. “... perhatian Hamba Yang Shaleh hanya tertuju pada bagaiman sebuah kejadian tidak membuatnya lalai dari menaati apa yang sudah diperintahkan kepadanya, sehingga tidak menghalangi pahala yang diberikan Allah karena sudah menaati kehendakNya, yaitu seperti mengakhiri hidup anak laki-laki itu. Terutama karena menaati perintah ini akan menjadi sumber kasih sayang Allah bagi kedua orang tua anak tersebut, karena seperti yang disampaikan dengan jelas di dalam Al Quran, Hamba Yang Shaleh mengetahui bahwa Allah akan mengganti anak laki-laki itu dengan anak lain yang suci dan menjadi penyatu keluarganya. Lagipula, anugerah untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahiah itu akan memungkinkan Hamba Yang Shaleh (as) untuk dapat menungkapkan rahasia-rahasia Ilahi dan menerangkan kebenaran yang tersembunyi kepada Musa.” (Illal Al Sharayi)

Imam Ja’far b. Muhammad As-Sadiq (as) menggambarkan berkah Allah itu di dalam kata-katanya sebagai berikut: “Allah mengetahui bahwa apabila anak laki-laki itu tetap hidup, ia akan membawa orang tuanya kepada kekufurandan ia akan menjadi sumber kehancuran moral dan kesulitan bagi semua. Oleh karena itu, Hamba Yang Shaleh (as) diperintahkan untuk menghabisi nyawanya sehingga sebagai akibatnya semuanya (yang membunuh, yang terbunuh, dan orang tuanya) akan mendapatkan kehormatan dan rahmat Allah.”
(Tafsir Safi, vol 3, hlm 256)

Jadikanlah tiga kejadian di dalam kisah perjalanan Nabi Musa (as) sebagai teladan bagikita karena ujian kesabaran dan ketaatan akan jauh lebih sulit bagi kita. Semoga Allah )SWT) melindungi dan dan memperkuat Ansar Allah (SWT) dalam hal kesabaran dan ketaatan. inshAllah.

Sepenggal nasehat dari Aba Sadiq (as) :
“... apabila engkau betul-betul ingin berjalan bersama Ahmed Al Hassan, Hamba Yang Shaleh (as), maka bunuhlah diri (ego)mu sendiri sebelum engkau terbunuh dan jadilah seperti orang mati yang berjalan diantara tangan-tangan Sang Maha Hidup Maha Pemurah dan janganlah berjalan mendahului Imam (as) dan janganlah terlambat mengiringi langkahnya(as) dan janganlah engkau bertanya. Jadikanlah Ahmed Al Hassan (as) sebagai telinga dan matamu dan pikiranmu, karena ia melihat apa yang engkau tidak lihat dan ia mengetahui apa yang engkau tidak ketahui, dan ia memahami apa yang engkau tidak pahami. Dan janganlah terkejut atas apapun, berharaplah untuk segala sesuatu (terjadi). Dan janganlah engkau terikat pada sesuatu atau seseorang, dan janganlah mencintai siapapun lebih dari cintamu kepada Allah. Janganlah engkau terikat pada apapun atau siapapun sama sekali. Karena pada akhirnya dunia ini adalah fana dan dunia ini adalah tempatnya penderitaan, dan engkau akan diuji pada apa yang engkau cintai dan pada semua yang engkau inginkan.”
T- La Table Servie.

Salam, Sur une Table. T-16. Cela s’est pass[…]

Salam, Des bannières pour tous les peuples. […]

Q- Le Mahdi dans le Coran.

Salam, Le Qoraychi. Q-27. Nous avons vu que[…]