User avatar
By zeynabansari
#65083
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah, Penguasa Semesta Alam. Ya Allah, sampaikan salam dan shalawat kepada Muhammad dan Keluarganya, Aimmah dan Mahdyeen.

Kesuksesan datangnya dari Allah (SWT) dan Allah (SWT) adalah yang Maha Mengetahui.

Ya Ahmad, Ya Abdullah, Ya Mahdi. Darimu, Ya Ahlul Bayt, datangnya kebaikan, dan di dalam dirimu adalah kebaikan, dan ke atasmu adalah kebaikan.


MENANGGUNG SEMUA KESULITAN DENGAN KESABARAN

Pahala yang diberikan oleh Allah (SWT) kepada manusia disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari setiap ujian dan cobaan. Semakin sulit ujian dan cobaan, semakin besarlah pahala dari Allah (SWT). Mahdi Kedua, Aba Sadiq as. berkata : Punyai keikhlasan dan kesabaran, dan bekerjalah untuk Allah (SWT). Orang mukmin haruslah bersabar dan tulus dalam semua pekerjaan mereka bagi Allah (SWT). Walaupun menghadapi kesulitan, mereka harus tetap sabar dan percaya akan ketetapan Allah (SWT). Tidak ada daya ataupun kekuatan, kecuali berasal dari Allah (SWT). Orang mukmin adalah orang yang tulus dalam beribadah, selalu memuji Allah (SWT), dan berdoa untuk meningkatkan keimanan mereka.

Kemampuan untuk menanggung kesulitan adalah salah satu kualitas yang dipunyai oleh orang-orang yang bertakwa. Imam Sadiq (as) berkata, “Kesabaran adalah puncak keimanan.” ( Ibid, hlm 183)

Imam (as) juga berkata, “Posisi kesabaran terhadap keimanan adalah bagaikan kepala bagi tubuh. Ketika kepalanya hilang, maka tubuh pun hilang pula. Apabila kesabaran hilang maka keimanan pun hilang juga.” (Ibid, vol 72, hlm 183)

Allah (SWT) tidak membebani manusia lebih daripada yng bisa ia tanggung. Allah (SWT) akan menambahkan (secara bertahap) besarnya kesulitan untuk memperkuat keimanan, sama seperti seorang guru yang secara bertahap memberikan persoalan yang semakin sulit kepada para murid untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka. Di dunia yang gelap ini, orang-orang beriman dijanjikan untuk berjalan di jalan yang penuh dengan kesulitan.

Abu Dharr mengungkapkan perasaan cintanya kepada Rasulullah (SAWA), yang menjawab, “Kalau demikian, siapkanlah dirimu untuk menjalani kemiskinan. Kemiskinan datang dengan cepat pada mereka yang mencintai kami, lebih cepat datangnya daripada banjir yang turun dari puncak bukit.” (Al Mustadrak : 367/4)

Imam Hussein (as) mempunyai kedekatan yang besar kepada Nabi Muhammad (SAWA) dan menerima segalanya dari beliau. Diriwayatkan dari banyak perawi bahwa Rasulullah (SAWA) menyatakan bahwa Hussein (as) berasal dariku dan aku dari Hussein (as). Imam Hussein (as) mengabdikan hidupnya di jalan Allah (SWT). Oleh karena itu, dikatakan bahwa apabila bukan untuk Imam Hussein (as) maka Islam tidak akan pernah ada.

Imam Hussein (as) berkata, “Apabila agama Muhammad (SAWA) tidak akan tegak kecuali dengan membunuhku, maka wahai pedang! Ambilah nyawaku!” Tidak hanya Imam Hussein (as) saja yang syahid demi melindungi agama Muhammad, tetapi puluhan orang berbuat hal yang sama.

Ketika Imam Hussein (as) melihat Rasulullah (SAWA) di dalam mimpinya ketika menuju Karbala, Nabi berkata, “Tentu saja Allah menginginkan engkau syahid. Dan tentu saja Allah menginginkan mereka (anak-anak dan keluarga Imam Hussein as.) menjadi tawanan.” Jika Islam harus diselamatkan, maka Imam Hussein (as) telah bersiap menyambut kesyahidannya, keluarga dan anak-anaknya pun siap untuk menjadi tawanan. Ujian dari Allah (SWT) bagi Imam Hussein dan mereka yang menyertainya (as) tidak mempengaruhi keimanan mereka. Semuanya (as) mempunyai keinginan untuk berkorban dan bertahan terhadap segala kesulitan dengan penuh kesabaran demi tegaknya agama Allah (SWT). Sepanjang sejarah manusia, ada banyak petunjuk yang menekankan pada kesabaran, daya tahan, dan persiapan.

Imam Al Sadiq (as) menceritakan : Pada suatu hari, Rasulullah (SAWA) mengunjungi rumah Fatimah Al Zahra (as) dan melihatnya mengenakan baju dari kain yang kasar, sedang menumbuk gandum dengan tangannya sambil menyusui puteranya. Melihat itu, Rasulullah (SAWA) menangis. Sambil memandang puterinya, beliau berkata, “Wahai puteriku yang terhormat. Bertahanlah atas segala kesukaran di dunia ini supaya engkau memperoleh manisnya akhirat.” Fatimah menjawab, “Segala puji bagi Allah atas segala rahmatNya dan syukur kepada Allah atas segala karuniaNya.”
(Al Manaqib : 342/3)
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS 93 : 5)

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah bersama dengan salah satu sahabatnya pergi ke gurun di Madinah. Beliau melihat seorang ibu tua di dekat sumur hendak menimba airnya tetapi ia tidak bisa. Rasulullah (SAWA) mendekati ibu itu dan berkata, “Wahai ibu, apakah engkau mengizinkan aku untuk menimba air bagimu?” Ibu itu berkata, “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri (QS 17 : 7).” Rasulullah kemudian pergi ke sumur, menimba airnya, mengisi buli-buli, membawanya di atas pundaknya dan berkata, “Tolong tunjukkan padaku dimana tendamu.” Sahabat Nabi bersikeras untuk membawa buli-buli tersebut tetapi Nabi berkata, “Aku lebih berhak dari siapapun untuk membawa beban umatku.” Rasulullah (SAWA) kemudian mengikuti ibu tua tersebut sampai ke tendanya. Disimpannya buli-buli di depan tenda dan bersiap kembali meneruskan perjalanannya menuju Madinah. Ibu itu masuk ke dalam tenda sambil berkata kepada anak-anaknya, “Bangunlah dan bawakan buli-buli itu ke dalam.” Mereka bertanya, “Ya ibu, bagaimana engkau membawa buli-buli yang berat ini kemari?” Ia menjawab, “Seorang pemuda, yang tutur katanya indah, membawakannya untukku.” Mereka bertanya, “Kemanakah ia pergi?” Ibu itu menjawab, “Ke arah sana.” Anak-anak itu pun mengejar Nabi. Ketika mereka mengenali Nabi, mereka berkata, “Ibu! Inilah ia, orang yang engkau imani dan yang begitu ingin engkau temui.” Ibu tua dan anak-anaknya itu berlari menuju Rasulullah dan mencium tangannya. Ibu itu menangis dan berkata, “Ya Rasulullah, aku tadi tidak mengenalimu. Ampuni aku karena bertindak tidak sopan kepadamu. Bagaimana aku beroleh ampunanmu?” Rasulullah menghiburnya, berdoa bagi anak-anaknya, dan mengantarkan mereka pulang.
(Manhaj al-Sadiqin : 370/9)

Seorang mukmin sejati diketahui dari level keimanan mereka dan Allah (SWT) memberikan ujian keimanan bagi orang-orang mukmin yaitu berupa kesulitan (hidup). Bagaimanapun, keimanan bisa terguncang selama menjalani ujian dan cobaan sehingga sangat penting untuk selalu mengingatkan diri sendiri agar tetap bersabar dan selalu memelihara kesabaran tersebut. Semua kesulitan yang diderita oleh orang mukmin tapi dihadapi dengan penuh kesabaran dan penuh pengharapan pada akhirnya akan diganjar pahala yang besar oleh Allah (SWT).

“... Jika kamu menderita kesakitan/kesulitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al Quran surah An Nisaa : 104)


KESABARAN NABI AYYUB (AS)

Nabi Ayyub (as) adalah salah satu dari hamba Allah yang tulus, penuh rasa syukur, selalu memohon ampunan Allah (SWT), sabar, dan tabah. Allah (SWT) memuji Nabi Ayyub, yang dalam Al Quran adalah :
“... Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS 38 : 44)

Nabi Ayyub (as) adalah seorang yang amat sabar. Ia menderita berbagai malapetaka tetapi tak ada satu kata keluhan pun yang ia katakan. Pada suatu hari terjadi pencurian di tanah miliknya. Pencuri-pencuri tersebut membunuh banyak pembantu-pembantunya dan menguras seluruh ternaknya. Nabi Ayyub (as) tidak merasa sedih atas kehilangannya melainkan bersyukur kepada Allah (SWT). Setelah beberapa waktu, atap rumahnya rubuh dan menewaskan banyak anggota keluarganya. Nabi Ayyub (as) merasa terguncang tetapi ia cepat berpegang pada keimanannya kepada Allah (SWT). Ia tidaklah menitikkan air mata ataupun mengeluh. Yang dilakukannya hanya bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Ia menganggap anak-anak dan benda-benda miliknya hanyalah pemberian dari Allah (SWT). Jika Allah berkehendak mengambil milikNya, maka hanyalah sia-sia untuk meratapi kehilangan itu. Beberapa tahun kemudian Nabi Ayyub (as) menderita penyakit kulit. Beberapa bagian tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka yang menjijikan. Pada wajah dan tangannya ada banyak luka bernanah. Luka-luka tersebut dipenuhi oleh belatung. Diriwayatkan bahwa Nabi Ayyub mengambil belatung-belatung yang keluar dari luka-lukanya dan memuji Allah karena sudah menciptakan makhluk-makhluk tersebut. Teman-teman Nabi Ayyub (as) yang jahat membuat mala petaka baginya bertambah. Mereka mengejek dan menghina Nabi Ayyub (as). Semua orang mengasingkannya, kecuali istrinya yang setia, Rahima. Tetapi lama-kelamaan Rahima pun merasa muak kepadanya dan berdoa untuk kematian Nabi Ayyub. Ketika Nabi Ayyub (as) berada pada puncak kondisi yang memprihatinkan, ia pun berdoa :

Al Quran menyatakan, “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua yang penyayang.” (QS 21 :83). Allah menerima doanya. “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu. Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya padanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS 21:84)

Allah (SWT) berpaling kepada Nabi Ayyub (as) dengan kasih sayangNya. Ia diperintahkan Allah untuk menghentakkan kakinya ke tanah. Ia mematuhi perintah itu dan keluarlah air. Nabi Ayyub (as) mandi dengan air itu dan mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya. Setelah itu ia kembali mendapatkan kemakmuran. Nabi Ayyub (as) berlutut dan berdoa menyatakan rasa syukurnya kepada Allah (SWT). Ia tidak pernah melupakan pertolongan dan kasih sayangNya. Nabi Ayyub (as) adalah teladan yang baik, yaitu barangsiapa yang tetap bersabar di dalam semua kesusahan akan mendapatkan pahala yang besar.

Al Quran menyatakan : “Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna lillahi wa innaa Ilaihi Raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS 2 : 155-157)


UJIAN KESUKARAN DAN KESABARAN

Semua kesulitan adalah ujian dari Allah dan ujian tersebut memberikan kebaikan. Kebaikan datangnya dari Allah dan kebathilan ada akibat keakuan/ego. Allah hanya memberi pahala pada mereka yang tetap sabar dan tabah di dalam jalan Allah (SWT), ketika di dalam kesulitan maupun kemudahan selalu mengingat Allah (SWT).

Di dalam Al Quran, Allah berpesan kepada kita : ‘Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS 40 : 60)

Sebagai hamba-hamba Allah, kita tidak akan selamat tanpa kasih sayang dan rahmat dari Allah (SWT). Seorang anak kecil akan merasa mendapat hukuman yang besar apabila ayah atau ibunya berkata, “Aku tak akan berbicara kepadamu lagi.” Anak-anak mempunyai rasa ketergantungan yang besar kepada orang tuanya. Jadi seperti seorang anak yang merasa dihukum berat ketika orang tuanya tidak mau lagi berbicara kepadanya, demikian pula yang terjadi pada orang yang merasa bergantung secara total kepada Allah (SWT), ia akan merasa dihukum sangat berat apabila Allah (SWT) tidak memperdulikannya lagi. Itulah sebabnya Imam Ali (as) di dalam Dua Kumayl berkata, “(Anggaplah) aku dapat bersabar menanggung siksaMu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dariMu? Dan (anggaplah) aku dapat bersabar menahan panas apiMu, mana mungkin aku dapat bersabar (untuk dapat) melihat kemuliaanMu?”


KESABARAN

Imam Ali (as) berkata, “Kesabaran membuat kesukaran menjadi ringan.” (Ghurar al-Hikam, no. 533)

Imam Ali (as) berkata, “Kesabaran dalam menghadapi cobaan lebih baik daripada sejahtera ketika mendapatkan cobaan.” (Ibid., no 1821)

Imam Al Sadiq (as) berkata, “Orang mukmin (sejati) selalu bersabar dalam kesulitan.” (Mishkat al Anwar, no. 23)

Imam Al Jawad (as) berkata, “Kesabaran ketika menghadapi mala petaka adalah sesungguhnya mala petaka bagi orang yang menertawakan kesulitanmu.” (Kashf al-Ghamma, vol 3, hlm 139)


KEBAIKAN DARI BERSIKAP SABAR

Nabi Isa (as) berkata, “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah bisa memperoleh apa yang kamu suka hingga kamu mampu untuk bertahan pada apa yang kamu tidak sukai.” (Mussakin al-Fu’ad, no. 48)


KESABARAN DAN IMAN

Imam Ali (as) berkata, “Melalui kesabaran, banyak hal-hal besar yang bisa dicapai.” (Ghurar al-Hikam, no. 4276)

Rasulullah (SAWA) pernah ditanya tentang apakah keimanan itu, dan beliau menjawab, “Kesabaran.” (Ibid., no. 47)

Imam Ali (as) berkata, “Barangsiapa yang sabar bertahan di dalam jalan Allah maka ia akan meraih (kasih sayang)Nya.” (Bihar al-Anwar, vol 71, hlm 95, no. 60)

Imam Al Sadiq (as) berkata, “Kesabaran adalah puncak dari keimanan.” (Al Kafi, vol 2, hlm 87, no. 1)


PAHALA DARI KESABARAN

Imam Ali (as) berkata dalam penggambarannya tentang orang-orang yang selalu mengingat Allah, “Mereka menanggung semua kesulitan yang masanya sebentar, dan sebagai balasannya mereka beroleh kenikmatan dalam waktu yang lama.” (Nahj al-Balagha, ceramah 193)

Imam Al Sadiq (as) berkata, “Siapapun yang berasal dari syiah kami akan diuji dengan kesukaran dan apabila mampu untuk tabah menanggungnya, ia akan diberi ganjaran sebanyak ganjaran seribu orang yang syahid.” (Al Tamhis, hlm 59, no.125)

Imam Al Sadiq (as) berkata, “Barangsiapa, yang menderita penyakit, dengan sabar menanggungnya dan menganggapnya sebagai bentuk kedekatan kepada Allah, Allah akan menuliskan baginya pahala yang sama seperti pahala seribu syuhada.” (Tibb al-A’imma (as), hlm 17)


KEBENARAN TENTANG KESABARAN

Rasulullah (SAWA) berkata, “Kesabaran adalah kepuasan (pada ketentuan Allah).”(Kanz al-Ummal, no. 64-99)

Imam Ali (as) berkata, “Kesabaran adalah ketika seseorang menanggung semua cobaan dan menelan kemarahannya.” (Ibid., no. 6518)

Imam Ali (as) berkata, “Kesabaran ada 2 : Ketekunan dalam menghadapi apa yang kamu benci dan menahan diri pada apa yang kamu cintai.” (Ghurar al-Hikam, no.1874)

Imam Ali (as) berkata, “Bentuk kesabaran adalah tabah dalam menghadapi kesukaran, atau bertahan dalam ketaatan, atau mengekang diri sendiri terhadap ketidaktaatan (kepada Allah SWT). Dan bentuk yang ketiga adalah yang paling sulit.” (Sharhe Nahj al-Balagha li Ibn Abi al-Hadid, vol 1, hlm 319)

Imam Al Baqir (as) pernah ditanya tentang kesabaran yg tingkatannya paling baik /mulia (al-sabr al-jamil) - seperti yang disebutkan di dalam Al Quran : Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Yakub berkata, “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya, terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS 12 : 18). Yakub berkata, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” (QS 12 : 83) - yang mana Imam (as) menjawab, “Itu adalah bentuk kesabaran dengan tanpa adanya keluhan terhadap orang lain.” (Al Kafi, vol 2, hlm 93, no. 23)


SABARNYA ORANG-ORANG BERIMAN

Imam Al Sadiq (as) berkata kepada salah satu sahabatnya, “Sesungguhnya kami sangat sabar dan Syiah kami bahkan lebih sabar daripada kami.” Sahabatnya berkata, “Semoga aku menjadi tebusan bagimu, tetapi bagaimana mungkin Syiahmu lebih sabar darimu?” Imam (as) menjawab, “Kami sabar karena kami memiliki pengetahuan (tentang segala hal), sementara Syiah kami tetap bersabar walaupun mereka tidak berpengetahuan.” (Ibid., no 25)


FAKTOR-FAKTOR KESABARAN

Rasulullah (SAWA) berkata, “Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, Allah akan membuatnya sabar, dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, Allah akan membuatnya suci, dan barangsiapa yang mencukupkan dirinya dengan apa yang ia miliki, Allah akan menambahnya lebih banyak lagi. Tak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih mencukupi daripada kesabaran yang dikaruniakan oleh Allah kepada hambaNya.” (Kanz al-Ummal, no. 6522)

Imam Ali (as) berkata, “Akar kesabaran adalah keyakinan yang kuat kepada Allah.” (Ghurar al-Hikam, no. 3084)

Imam Ali (as) berkata, “Biasakanlah dirimu untuk tetap teguh dalam menghadapi kesulitan, dan (engkau akan mengetahui) seberapa banyak keteguhan dalam (jalan) kebenaran yang akan menjadi bagian dari watak alamiahmu.” (Nahj al-Balagha, surat 31)

Imam Ali (as) berkata, “Kegigihan dalam menghadapi kesulitan adalah pelindung hati.” (Bihar al-Anwar, vol 77, hlm 207, no. 1)

Doa Sajjadiya oleh Imam Zain Al Abideen (Kesabaran)
http://www.duas.org/sajjadiya/s22.htm

Salam, Des bannières pour tous les peuples. […]

Q- Le Mahdi dans le Coran.

Salam, Le Qoraychi. Q-27. Nous avons vu que[…]

M- Deux Messies.

Salam, Qoraych. M-14. Mahdi est Korèsh (Qora[…]